jelajah

Legenda Datu Banua Lima: Para Panglima Sakti yang Bikin Prajurit Majapahit Kocar-kacir Kembali ke Jawa

Senin, 2 September 2024 | 13:00 WIB
Panglima Sakti Datu Banua Lima yang membuat Majapahit Kewalahan. (X/ @Irwan_Nen)

 

SketsaNusantara.id - Datu Banua Lima, sebuah nama yang begitu dihormati oleh masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.

Nama ini dikenal sebagai lima panglima sakti dari Kerajaan Tanjungpuri yang pernah menjadi momok bagi kerajaan-kerajaan lain, termasuk Majapahit pada awal abad ke-14.

Dalam hikayat Banjar, kelima panglima ini tidak hanya dikenal karena kekuatan mereka, tetapi juga karena keunikan karakter masing-masing, seperti dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube orang dayak maanyan.

Baca Juga: Kolam Kuno Segaran Warisan Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto, Simpan Cerita Jadi Tempat Rekreasi Bangsawan Terdahulu

Panglima Alai, seorang ahli strategi dan politik yang cerdik, selalu berhasil menaklukkan lawan-lawannya dengan kecerdasan taktiknya.

Panglima Tabalong, seorang pendekar yang gagah berani, terkenal karena kekuatannya yang luar biasa, seringkali berada di garis depan dalam setiap pertempuran.

Sementara itu, Panglima Balangan, yang dikenal tampan dan pandai, menguasai berbagai ilmu kanuragan dan menjadi pelindung setia bagi rajanya.

Baca Juga: Inilah Candi Bajang Ratu Peninggalan Kerajaan Majapahit, Terdapat Relief Cerita Peruwatan Lokasinya di…

Dua panglima terakhir, si kembar Panglima Hamandit dan Panglima Tapin, menjadi legenda tersendiri karena sifat keras mereka dan kegemaran mereka dalam beradu kesaktian.

Kelima panglima ini adalah anak dari Datu Intingan, saudara Datu Dayuhan, kepala suku Dayak Maratus, dan Dayang Baiduri, seorang putri Melayu keturunan Sriwijaya.

Pada masa itu, Kerajaan Tanjungpuri hidup berdampingan secara harmonis dengan Kerajaan Nan Sarunai, meskipun memiliki keyakinan yang berbeda.

Baca Juga: 4 Fakta Patok Puser Kerajaan Majapahit: dari Umpak Gajah Patih Gajah Mada hingga Paku Nusantara, Kalau Tercabut Bisa...

Tanjungpuri menganut agama Buddha, sementara Nan Sarunai berpegang pada ajaran Kaharingan.

Halaman:

Tags

Terkini