Konflik ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Inggris dan Australia, yang membantu Malaysia dengan mengirim pasukan khusus seperti Special Air Service (SAS).
Pertempuran menjadi semakin sengit dengan serangkaian serangan, termasuk pengepungan selama 68 hari di Semporna, Sabah pada tahun 1965.
Baca Juga: Eksplorasi Goa Surowono Kediri, Terowongan Rahasia Kerajaan Kediri, Sekarang Jadi Objek Wisata?
Namun, situasi politik domestik Indonesia semakin rumit, terutama setelah peristiwa G30S/PKI dan naiknya Jenderal Soeharto.
Hal ini menyebabkan niat Indonesia untuk melanjutkan perang mulai memudar.
Ketegangan mencapai puncaknya pada 7 Januari 1965 ketika Malaysia diterima sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Sebagai reaksi, Soekarno menarik Indonesia dari PBB dan memperkuat posisinya melalui Konferensi Kekuatan Baru (Confo).
Konflik ini juga mencerminkan persaingan global selama Perang Dingin, dengan Amerika Serikat terlibat di Malaysia, sementara Uni Soviet dan Tiongkok mendukung Indonesia.
Kondisi ekonomi Indonesia yang buruk pada saat itu, dengan hiperinflasi mencapai 600 persen, semakin memperumit keputusan Soekarno untuk terlibat dalam konflik internasional.
Akhirnya, pada 28 Mei 1966, konferensi di Bangkok menghasilkan penyelesaian konflik antara Malaysia dan Indonesia.
Perjanjian perdamaian resmi ditandatangani pada 11 Agustus 1966.
Hal inilah yang menandai akhir dari periode ketegangan dan membuka jalan bagi hubungan yang lebih harmonis di masa depan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI