SketsaNusantara.id - Tempe, makanan khas Indonesia yang terbuat dari kedelai melalui proses fermentasi, telah lama dikenal karena rasanya yang lezat dan manfaat nutrisinya yang melimpah.
Mengandung kalsium, vitamin B, dan zat besi, tempe adalah salah satu warisan kuliner tertua di Indonesia.
Sejak abad ke-16, tempe pertama kali diproduksi di wilayah Mataram, Jawa Tengah, menggunakan kedelai hitam yang difermentasi oleh masyarakat Jawa tradisional.
Namun, ada juga teori yang mengatakan bahwa tempe dipengaruhi oleh penjajahan Belanda.
Pada masa itu, rakyat pribumi yang mencari bahan makanan dari pekarangan, seperti singkong dan ubi, mulai bereksperimen dengan fermentasi kedelai menggunakan jamur Aspergillus.
Tempe kemudian menjadi makanan penting selama penjajahan Jepang, dimana tempe membantu banyak tawanan perang selamat dari kelaparan.
Baca Juga: 4 Pusaka Majapahit yang Menjadi Simbol Kejayaan Kerajaan Ini, Ternyata Tidak Ada di Indonesia?
Tempe juga tercatat dalam naskah Jawa kuno seperti Serat Centhini, yang menggambarkan berbagai hidangan tempe, termasuk jahe santan tempe.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kanal YouTube yoatoon, popularitas tempe meluas ke Eropa setelah diperkenalkan oleh Belanda pada tahun 1946.
Kini, tempe telah menjadi makanan internasional dengan 18 perusahaan di Eropa, 53 di Amerika, dan 8 di Jepang yang memproduksinya.
Meskipun tempe dikenal sebagai superfood dan makanan mahal di luar negeri, sebagian masyarakat Indonesia sering menganggapnya sebagai makanan murah.