Dikenal sebagai kritikus tajam terhadap kebijakan kolonial, ia harus menghadapi pengasingan dan penjara sebelum akhirnya mendirikan Taman Siswa pada 1922, memperjuangkan pendidikan untuk rakyat.
Pada 31 Maret 1913, Douwes Dekker resmi membubarkan Indische Partij dan menganjurkan anggotanya bergabung dengan Insulinde demi keselamatan.
Meski dibubarkan, perjuangan anggota Indische Partij terus berlanjut.
Ketika pemerintah meminta rakyat Hindia menyumbang dana untuk peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda, Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat mendirikan Komite Bumiputera dan menulis kritik terhadap pemerintah.
Inilah yang akhirnya mengakibatkan mereka diasingkan ke Belanda.
Setelah kembali dari pengasingan, perjuangan mereka berlanjut.
Tjipto Mangunkusumo menjadi anggota Volksraad, sementara Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker mendirikan lembaga pendidikan Tamansiswa dan Satrian Institute.
Suwardi Suryaningrat kemudian mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!