jelajah

Tak Ada Fakta dan Sumber Sejarah yang Valid, Inilah Bantahan Profesor Anhar Gonggong Terkait Klaim Sejarah Ba'alawi

Sabtu, 27 Juli 2024 | 19:45 WIB
Profesor Anhar Gonggong bersama Rhoma irama terkait Ba'alawi (YouTube Rhoma Irama Official )

"Merah putih dari Ba'alawi tentu saja saya tidak percaya, karena saya punya dokumen sejarah yang ditulis oleh seorang pejuang Muhammad Yamin dimana ia seorang sastrawan, pejuang, sarjana hukum juga sejarawan dan ia sudah menulis sekian puluh buku dengan sumber-sumber yang sudah dipercaya," tegasnya.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Supriyadi PETA, Pahlawan Nasional yang Dikenal dengan Pemberontakannya Melawan Penjajah

Terkait klaim beberapa pahlawan nasional seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Sultan Hasanuddin sebagai keturunan Ba'alawi.

"Ga ada itu, berdasarkan yang saya tahu, berdasarkan penelitian saya itu pasti bohong berdasarkan bahwa pendapat saya sebagai sejarawan yang bukan hanya membaca namun juga tahu berbagai sumber dan penelitian," tambahnya.

Anhar Gonggong juga menegaskan bahwa pahlawan-pahlawan nasional yang kita tahu saat ini merupakan orang-orang pribumi asli bukan keturunan-keturunan Yaman seperti yang disebutkan oleh Kaum Ba'alawi.

Baca Juga: Kisah Persahabatan M Sroedji dan dr. Soebandi dalam Patung di Jalan Hayam Wuruk, 2 Pahlawan Jember yang Dibantai Belanda

Sedangkan terkait Sultan Hamid yang disebut Ba'alawi telah merancang lambang garuda sehingga diusulkan menjadi pahlawan nasional, Anhar Gonggong menjawab dengan lugas bahwa ia adalah orang yang tak menyetujui usulan itu.

"Saya baru membuka satu halaman (dokumen) kebetulan halaman pertama yang saya buka adalah Sultan Hamid yang menandatangani dengan gembira bahwa dia dinaikkan pangkatnya dari kolonel menjadi mayor jenderal pada tahun 1947," cerita sang profesor.

"Ingat pada tahun 1947 itu kita masih dikerjain Belanda dan ia dinaikkan pangkatnya di Belanda," tambahnya.

Baca Juga: Sukarni Pahlawan Terlupakan Kelahiran Blitar yang Dipenjara Pemerintahan Bung Karno, Waktu Kecil Sering Gelut dengan Anak-Anak Belanda

Sebab itulah kemudian Profesor Anhar langsung menyingkirkan Sultan Hamid sebagai calon pahlawan nasional. Menurutnya sikap Sultan Hamid yang menerima kenaikan pangkat oleh Belanda disaat negara Indonesia masih terjajah merupakan sebuah penghianatan kepada bangsa dan penghianat tak boleh diangkat sebagai pahlawan nasional yang merupakan pangkat tertinggi bagi orang yang berjasa kepada negara.

Sedangkan terkait hari kemerdekaan yang didasarkan perintah Habib Kwitang seperti yang disebutkan oleh Bahar bin Smith dengan lugas Anhar juga menyebutkan itu juga bagian kebohongan.

"Bohong, Soekarno sudah memikirkan itu (kemerdekaan) selama berpuluh-puluh tahun berjuang," ujarnya.

Baca Juga: Siapa Sosok Kyai Umar Sumberwringin? Pahlawan dari Tokoh Ulama Jember, Pemimpin Laskar Santri yang Kharismatik dan Legendaris

"Sepanjang yang saya baca dan saya tahu tak pernah saya mendengar nama itu (Habib Kwitang)," ujarnya.

Halaman:

Tags

Terkini