Pasukan Kesultanan Aceh dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil yang dibantu dua orang laksamana, salah satunya Laksamana Tuanku Mahmuddin bin Said Al Latief.
Puluhan kapal kayu milik pasukan Sultan Alauddin Riayat berjajar membentengi wilayah di Selat Malala.
Diceritakan, pertempuran berlangsung sangat sengit. Namun pasukan Kesultanan Aceh berhasil memukul mundur kapal-kapal Portugis. Naasnya, suami Malahayati gugur dalam pertempuran.
Mengetahui suaminya yang telah gugur, Malahayati bersumpah untuk menuntut balas dan melanjutkan perjuangan suaminya.
Posisi mendiang Laksamana Tuanku Mahmuddin selanjutnya digantikan oleh Malahayati. Kemudian Laksamana Malahayati meminta kepada Sultan Al Makammil untuk segera membentuk armada Aceh.
Malahayati menginginkan pasukan yang berisi yang berisikan para wanita janda yang suaminya tewas dalam peperangan.
Permintaan Pasaman Malahayati disetujui, nama pasukan armada aceh tersebut adalah Inong Balee. Inong diartikan sebagai wanita, dan Balee diartikan sebagai janda.
Seluruh pasukan Inong Balee dilatih secara langsung oleh Malahayati untuk menjadi pasukan Kesultanan Aceh yang tangguh.
Inong Bale dan Laksamana Malahayati kemudian sering terlibat dalam pertempuran.
Bukan hanya melawan Belanda atau Portugis di Selat Malaka, tetapi juga ikut dalam Pepera yang terjadi di daerah pantai timur Sumatera hingga Malaya.
Perjuangan tangguh Laksamana Malahayati juga ditunjukkannya dalam sebuah peperangan melawan pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman.
Laksamana Malahayati menampilkan aksi heroik yakni berhadapan dengan Cornelis de Houtman di atas geladak kapal pada 11 September 1599.