SketsaNusantara.id - Laksamana Malahayati, sosok yang begitu kental melekat bagi masyarakat Aceh, Indonesia.
Laksamana Malahayati diceritakan sebagai perempuan tangguh dari Kesultanan Aceh yang berjuang menghadapi sekaligus menghabiskan kolonialisme Portugis di Aceh.
Dilansir SketsaNusantara.id dari laman indonesia.go.id, Keumalahayati atau Malahayati merupakan pendiri Inong Balee, pasukan perang pertama dengan seluruh anggotanya yakni perempuan yang cukup disegani dan ditakuti oleh musuh di perairan pesisir Aceh Besar serta Selat Malaka.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Wisata di Klaten Tahun 2024, Jadi Tempat Nyaman untuk Liburan Panjang atau Akhir Pekan
Laksamana Malahayati lahir di Aceh pada 1 Januari 1550. Ia diketahui cicit dari Sultan Salahuddin Syah, raja kedua di Kesultanan Aceh yang memerintah pada 1530 sampai 1539.
Ayahnya merupakan Laksamana Mahmud Syah yang merupakan seorang panglima angkatan laut Kesultanan Aceh.
Malahayati kecil memiliki keinginan menjadi seorang pelaut atau laksamana yang gagah berani seperti ayah dan kakeknya.
Pada usia muda, Malahayati masuk ke dalam akademi angkatan bersenjata milik kasultanan bernama Mahad Baitul Maqdis.
Akademi milik Mahad Baitul Maqdis tersebut terdiri dari angkatan darat dan angkatan laut. Kemudian ia mengasah berbagai ilmu didampingi para pengajar yang merupakan para perwira dari Turki.
Saat baru menginjak usia 35 tahun yakni sekitaran tahun 1585, Malahayati menjabat Kepala Barisan Pengawal Istana Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah semasa kepemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Mukammil.
Perjuangan Malahayati melawan kolonialisme Portugis dimulai dari peristiwa perang di perairan Selat Malaka tahu 1586.