SketsaNusantara.id - Amangkurat I merupakan raja keempat dari Kesultanan Mataram Islam yang dikenal memiliki sifat kejam dan meninggalkan jejak kelam dalam sejarah Indonesia.
Amangkurat I yang memiliki nama asli Raden Mas Sayyidin merupakan putra dari Sultan Agung, raja Kesultanan Mataram yang tegas, adil, dan disukai rakyatnya hingga berhasil mencapai puncak kejayaan pada tahun 1613-1645 M.
Setelah Sultan Agung mangkat, tahta Kerajaan Mataram Islam dipegang oleh Amangkurat I pada tahun 1646-1677 M.
Sifat Amangkurat I yang sangat berbeda dengan ayahnya pun mengakibatkan Kesultanan Mataram mengalami kemunduran.
Selama masa pemerintahannya, Amangkurat I memerintah dengan semena-mena dan membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyat.
Perilakunya pun menuai kontroversi yang menyebabkan dirinya tidak disukai rakyat dan dinilai sebagai raja yang zalim.
Dihimpun SketsaNusantara.id dari Buku berjudul "Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I" tulisan sejarawan HJ de Graaf dan berbagai sumber lainnya, berikut 5 kontroversi Amangkurat I yang membawa kemunduran pada Kerajaan Mataram Islam.
1. Memindah Ibu Kota dari Mataram ke Plered
Berdasarkan catatan sejarah dalam kisah Babad ing Sengkala, Amangkurat I memindahkan ibu kota kerajaan dari Mataram ke Plered sejak awal pemerintahannya pada tahun 1647.
Keputusan ini disertai dengan perubahan tradisi kerajaan dan kehidupan masyarakat yang memicu penolakan dari sebagian besar bangsawan dan rakyat.
Amangkurat I bahkan tak segan-segan membunuh rakyat dan menghukum mati para bangsawan atau pejabat yang tidak mau patuh pada keputusannya.