Pada tahun 1831, keris ini diberikan kepada kabinet kerajaan Raja William I, raja pertama Belanda dan adipati agung Luksemburg.
Kemudian, keris tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Etnologi.
Menurut sejarawan seni Jos van Beurden, hilangnya keris selama bertahun-tahun disebabkan oleh kurangnya pengaturan dan keengganan untuk mengembalikan harta karun kepada Indonesia.
Baca Juga: Bagaimana Asal-usul Wedang Ronde? Mengenal Minuman Unik Khas Jawa yang Bisa Menghangatkan Tubuh
Keris Kyai Nogo Siluman adalah salah satu senjata yang selalu dibawa oleh Pangeran Diponegoro, termasuk saat berperang.
Selain keris Kyai Nogo Siluman, Pangeran Diponegoro juga sering membawa beberapa keris lainnya, seperti keris Kyai Abijoyo dan Kyai Ageng Bondoyudo.
Keris pada masa itu bukan hanya senjata perang, tetapi juga simbol kepercayaan diri.
Dalam pertempuran, keris digunakan sebagai alat untuk meningkatkan keberanian.
Pangeran Diponegoro percaya bahwa membawa keris pusaka akan memberikan kekuatan tambahan saat berperang.
Meski akhirnya menyerah demi menyelamatkan pasukannya, perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda berlangsung dengan sangat sengit.
Setelah menyerah, Pangeran Diponegoro diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara, kemudian dipindahkan ke Makassar, Sulawesi Selatan hingga akhir hidupnya.
Perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun meninggalkan bekas yang mendalam dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Pengembalian keris Kyai Nogo Siluman ke Indonesia adalah simbol penting kembalinya warisan budaya dan sejarah yang berharga.