jelajah

Mengulik Kisah Mbah Salamun, Santri Generasi Pertama KH Bisri Syansuri yang Terlibat dalam Pertempuran 10 November

Selasa, 23 Juli 2024 | 18:45 WIB
Potret Mbah Salamun, santri pertama KH Bisri Syansuri bersama Gus Dur (denanyar.or.id)

Namun, ayah Salamun wafat dan kembali ke kampung halamannya di Desa Turipinggir, Megaluh, Jombang. Ia pun mengajar ilmu nahwu dan fiqih sejak usia 15 tahun sambil menemani sang ibu sepeninggalan ayahnya.

Atas izin ibunya, Salamun kemudian melanjutkan pendidikannya ke Pondok Semelo di bawah asuhan Kyai Umar Zaid. Tiga tahun kemudian, ia pun mendapat surat dari KH Bisri Syansuri untuk mengikuti pelatihan Lazkar Hizbullah sebagai pejuang perang kemerdekaan Indonesia.

Salamun terinspirasi dari sang mahaguru KH Hasyim Ay'asri yang melakukan jihad untuk berjuang melawan penjajah. Di bawah komando KH Bisri Syansuri, Salamun ikut berjuang membela Tanah Air.

Berdasar rasa cinta tanah air, Salamun bersama santri-santri Denanyar yang lain terlibat langsung dalam pertempuran 10 November di Surabaya.

Kisah ini pun menjadi bukti adanya peran sentral santri yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia pada zaman penjajahan Jepang dan Belanda.

Baca Juga: Gus Fawait Politisi Santri Mimpi Bangun Jember, Promedia Teknologi Indonesia Tawarkan Skema Strategis

Kisah perjuangan ulama dan para santri memperjuangkan kemerdekaan Indonesia ini juga mendorong Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) untuk mengusulkan KH Bisri Syansuri dan santri-santri pengikutnya sebagai pahlawan nasional.

Tak hanya itu, Presiden Jokowi juga menetapkan Hari Santri yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober sebagai momen penghormatan untuk para santri yang telah berperan besar dalam memperjuangkan dan mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia.***

Halaman:

Tags

Terkini