Baca Juga: Menelusuri Jejak Terakhir Raden Tumenggung Hirosroyo, Dikenal Sebagai Makam Bersejarah di Nganjuk
Sejarahnya, setelah Raden Tumenggung Brotonegoro seorang Bupati Polorejo gugur dalam melawan penjajah Belanda, patihnya yang bernama Raden Dipotaruno berhasil lolos dan melarikan diri ke Desa Srandil.
Raden Dipotaruno bersembunyi di Goa Batu yang ada di Bukit Ngrayu, cukup lama ia bersembunyi hingga akhirnya memutuskan keluar dari persembunyiannya dan berganti nama menjadi Raden Mertokusumo.
Pergantian nama Raden Mertokusumo tersebut dilakukannya sebagai usaha menghindari pengejaran penjajah Belanda masa itu.
Masyarakat Srandil diketahui lebih mengenal nama Raden Mertokusumo daripada nama sebelumnya yakni Raden Dipotaruno.
Raden Mertokusumo dikenal menjadi sesepuh yang sangat dihormati dan menjadi panutan masyarakat di Desa Srandil.
Tak sendirian, ia menjadi panutan Desa Srandil bersama dengan para tokoh Islam yakni Kyai Mohibat, putra Kyai Kasan Yahya dari Tegalsari.
Dikatakan, Raden Mertokusumo pernah membuat sebuah pesan kepada masyarakat Srandil sebelum meninggal dunia, ia ingin jenazahnya dimakamkan di Bukit Srayu.
Pesan tersebut disampaikannya sebagai bentuk terima kasih atas pertolongan Allah SWT yang telah menyelamatkan dirinya melalui Bukit Srayu.
Pada masa Kabupaten Somoroto yang dipimpin bupati II, Raden Mas Tumenggung Sumonagoro sekitar tahun 1830-an. Raden Mertokusumo mengajukan permohonan kepada Raja Surakarta Sunan Pakubuwono IV.
Permohonan tersebut ditulis agar Desa Srandil dengan luas sekitar 70 hektar dijadikan sebagai daerah perdikan atau daerah bebas pajak.
Hal ini dilakukan semata-mata untuk menjaga dan memelihara Pasarean Astana Srandil. Selain itu, Desa Srandil akan dijadikan sebagai pemakaman para keturunan bupati Somoroto.
Tak butuh waktu lama, permohonan Raden Mertokusumo dikabulkan oleh Sunan Pakubuwono IV, dibangunlah pagar keliling yang berukuran 24m x 24m pada Pasarean Srandil yang tetap kokoh sampai sekarang.