jelajah

Jejak Kyai Zainul Arifin Pahlawan Nasional dari Barisan Hisbullah, Kisahnya Jadi Tameng Hidup Soekarno Legendaris Hingga Kini

Senin, 22 Juli 2024 | 21:08 WIB
Kyai Zainul Arifin, tokoh NU dan Panglima Hisbullah (Tangkapan layar YouTube Historia Channel )

Baca Juga: Siapa M Sroedji? Inilah Sosok Pahlawan Jember yang Pernah Memimpin 5000 Prajurit hingga Jadi Musuh Nomor 1 Belanda

Sedangkan pada masa RIS (Republik Indonesia Serikat), ia duduk sebagai anggota DPRS (Dewan Pertimbangan Rakyat Sementara).

Pada saat Belanda mengakui kedaulatan RI pada tahun 1949, Zainul Arifin kembali ke parlemen sebagai wakil partai Masyumi di DPRS dan wakil Partai NU, hingga akhirnya NU melepaskan diri dari Partai Masyumi pada tahun 1952. 

Setahun kemudian ia bergabung di lembaga eksekutif pada kabinet Ali Sastroamidjoyo sebagai wakil perdana menteri dan memerintah pada tahun 1953 hingga 1955.

Itulah untuk pertama kalinya dari NU menjabat 3 jabatan menteri dimana salah satunya adalah Zainul Arifin pada tahun 1955. Serta berhasil membawa NU ke dalam tiga besar pemenang NU pada Pemilu legislatif.

Pada tahun itu pula Kyai Zainul Arifin mengungkapkan kebanggaannya bisa menemani Soekarno berangkat naik haji hingga ia dihadiahi pedang berlapis emas oleh raja Arab Saudi.

Baca Juga: Makam Pahlawan Nasional KH. Abdul Wahab Chasbullah, Tokoh Pendiri NU, Jadi Wisata Religi di Jombang, Lokasinya di…

Memasuki era demokrasi terpimpin, di mana kemudian terjadi pemusatan kekuasaan pada diri presiden Soekarno yang berkeras menerapkan paham Nasakom yang kemudian menyudutkan partai-partai agama yang tidak mau PKI berkembang di Indonesia.

Setelah perjalanan panjang dan banyak kiprahnya dibidang kenegaraan dan organisasi agama, perjuangan Zainul Arifin harus terhenti.

Kala itu ia dan Presiden Soekarno dan jajaran pejabat sedang sholat berjamaah, namun ketika rukuk rakaat kedua, tiba-tiba terdengar suara takbir dari arah belakang.

Suara itu berasal dari tepat di barisan ke empat yang berjarak kurang dari 6 meter, disusul beberapa kali suara letusan pistol.

Tembakan seorang pemberontak DI TII yang diarahkan kepada Soekarno meleset dan mengenai Zainul Arifin hingga ia terkulai di atas sajadah sholatnya.

Baca Juga: Siapa Dokter Soebandi? Pahlawan Jember yang Namanya Abadi, Sahabat Letkol Sroedji yang Segera Bergelar Pahlawan Nasional

Faktanya, ia tak meninggal dunia karena tembakan itu menyerempet di bahu. Namun ternyata meski demikian luka itu menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.

Sampai akhirnya ia meninggal dunia pada tangga 2 Maret 1963 saat usianya 53 tahun. Atas jasa-jasanya, Kyai Zainul Arifin kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional setelah 10 bulan hari ia meninggal dunia.***

Halaman:

Tags

Terkini