Begitu juga untuk para penari laki-laki. Mereka menggunakan busana adat Jawa lengkap. Seperti blangkon, beskap, batik, sewek, dan sepatu slop.
Laki-laki yang turut serta dalam tarian tersebut juga memperindah dirinya dengan aksesoris seperti keris dan bros.
Biasanya, Tari Tayub ini tampil di sebuah padepokan. Tarian yang konon sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga ini tampil di Padepokan Langen Langen Tayub.
Saat ini tarian tersebut sudah tidak digunakan sebagai bentuk ritual seperti ketika pertama kali muncul.
Namun warga Nganjuk tetap antusias untuk menunggu beberapa momen pagelaran Tari Tayub yang menghibur.
Meski di zaman modern, tarian ini masih dilestarikan. Salah satunya melalui Padepokan Langen Tayub.***