jelajah

Nasi Kropokhan, Menu Khas Raja-raja Demak, Beda Sajian Raja dengan Rakyat Biasa

Kamis, 18 Juli 2024 | 15:45 WIB
Nasi Kropokhan khas Demak (pariwisata.demakkab.go.id)

Daun kedondong juga dipercaya bisa menggerus kolesterol dalam daging kerbau dan kuah santan.

Cita rasa gurih, pedas dan asam berpadu pas di lidah.

Dahulu kala, daging kerbau pada Nasi Kropokhan diperuntukkan bagi para sultan dan kalangan bangsawan.

Baca Juga: Fakta Kontroversial Arya Penangsang, Sosok Penguasa Kerajaan Demak yang Naik Tahta dengan Cara Paling Keji dan Berdarah

Sementara rakyat biasa menggunakan kulit kerbau. Agar sayur lebih banyak, maka dicampur dengan labu putih.

Nama kropokhan sendiri konon berasal dari kata kropoh yang berarti dicampur.

Simbol Toleransi

Tak cuma bercita rasa gurih, Nasi Kropokhan ternyata juga merupakan simbol toleransi Islam dan Hindu.

Baca Juga: Siapa Nama Asli Sunan Pandanaran? Mengenal Sosok Utusan dari Kesultanan Demak yang Jadi Pendiri dan Penguasa Kota Semarang

Di masa penyebaran Islam di tanah Jawa, Masyarakat Jawa, salah satunya Demak, masih banyak menganut agama Hindu.

Umat Hindu meyakini sapi sebagai hewan sakral bahkan ada yang percaya perwujudan Dewa Wisnu.

Oleh karena itu, daging sapi diganti dengan daging kerbau sebagai bentuk toleransi antar agama.

Baca Juga: Mengulik Kisah Legendaris Joko Tingkir, Mampu Taklukan 40 Buaya dalam Perjalanan Menuju Demak, Ustad Salim A Fillah: Sebenarnya...

Untuk mendapatkan seporsi nasi Kropokhan, kamu tak perlu sowan ke Kesultanan Demak sebagai tamu kerajaan.

Saat ini, kamu bisa menemukan Nasi Krophokan di jalan Bhayangkara Baru Demak, Kelurahan Bitoro, Demak.

Halaman:

Tags

Terkini