Daun kedondong juga dipercaya bisa menggerus kolesterol dalam daging kerbau dan kuah santan.
Cita rasa gurih, pedas dan asam berpadu pas di lidah.
Dahulu kala, daging kerbau pada Nasi Kropokhan diperuntukkan bagi para sultan dan kalangan bangsawan.
Sementara rakyat biasa menggunakan kulit kerbau. Agar sayur lebih banyak, maka dicampur dengan labu putih.
Nama kropokhan sendiri konon berasal dari kata kropoh yang berarti dicampur.
Simbol Toleransi
Tak cuma bercita rasa gurih, Nasi Kropokhan ternyata juga merupakan simbol toleransi Islam dan Hindu.
Di masa penyebaran Islam di tanah Jawa, Masyarakat Jawa, salah satunya Demak, masih banyak menganut agama Hindu.
Umat Hindu meyakini sapi sebagai hewan sakral bahkan ada yang percaya perwujudan Dewa Wisnu.
Oleh karena itu, daging sapi diganti dengan daging kerbau sebagai bentuk toleransi antar agama.
Untuk mendapatkan seporsi nasi Kropokhan, kamu tak perlu sowan ke Kesultanan Demak sebagai tamu kerajaan.
Saat ini, kamu bisa menemukan Nasi Krophokan di jalan Bhayangkara Baru Demak, Kelurahan Bitoro, Demak.