SketsaNusantara.id - Mengulik kisah sejarah Indonesia era kerajaan selalu menjadi daya tarik tersendiri.
Salah satunya adalah tentang kisah Arya Penangsang, pemimpin Kerajaan Demak yang terkenal di wilayah nusantara.
Arya Penangsang merupakan seorang Adipati Jipang yang memerintah pada pertengahan abad ke-15.
Sosok Arya Penangsang terkenal dengan kepribadian yang kurang baik dan pemberontak. Ia juga dikenal sebagai seorang pembunuh untuk meraih tahta di Kerajaan Demak. Kepribadian inilah membentuk sifat tempramental serta kurang sabar dalam melakukan sesuatu.
Arya Penangsang juga dikenal dengan nama Putu Indra. Ia memiliki nama samaran Buyut Laye yang dimanfaatkan untuk mengelabuhi musuh.
Sosok Putu Indra terkenal sakti, ia bisa menghilang di keramaian dan berubah wujud. Kadang bisa menjadi anak-anak atau juga berganti wujud menjadi orang tua.
Arya Penangsang adalah putra dari Raden Kikin atau Pangeran Seda Lapen. Ayahnya adalah keturunan kesultanan Demak, putra Raden Fatah Raja Demak.
Uniknya terdapat dua versi tentang lokasi makam Arya Penangsang. Di Blora Jawa Tengah, dan di Desa Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Versi yang pertama adalah di Blora Jawa Tengah. Setelah meninggal karena kerisnya sendiri saat melawan Pasukan Pajang dan Sutawijaya.
Konon jasadnya dimakamkan dekat dengan aliran Bengawan Solo, di desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Pemakaman Arya Penangsang di Blora ini dinamakan kompleks Gedong Ageng Jipang.
Dilansir SketsaNusantara.id dari hasil penelitian Rina Wulandari dalam Skripsinya yang berjudul "Makam Arya Penangsang Bergelar Raden Kuning (Buyut Laye) di Desa Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (Tinjauan Arkeologis- Historis)", yang diakses pada repository.
Semasa hidupnya, warga sekitar makam Arya Penangsang mengatakan bahwa sosok keturunan Kerajaan Demak ini banyak mengajarkan budaya yang belum ada di Desa Indralaya pada masa itu.