jelajah

Makam Keramat Ki Ageng Balak, Asal-usul Nama hingga Adanya Tradisi Pulung Langse pada Akhir Bulan Suro

Selasa, 16 Juli 2024 | 11:15 WIB
Potret makam keramat Ki Ageng Balak. (Instagram/@pariwisata_sukoharjo._)

Baca Juga: Konsep Ketuhanannya Sama dengan Islam, Inilah Agama Leluhur Nusantara yang Sudah Ada Sejak Ribuan Tahun Lalu

Selama perjalanan mengembara, Kerajaan Majapahit penuh akan konflik yang hanya bisa diselesaikan oleh Raden Sujono.

Di akhir Prabu Brawijaya V menginginkan putranya untuk kembali ke kerajaan namun Raden Sujono menolak dan hanya memberikan sebuah saran dan prasarana untuk memulihkan Kerajaan Majapahit.

Arti nama Balak kedua yakni pageblug atau penyelesaian masalah. Seperti cerita sebelumnya yang mana Raden Sujono bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di Kerajaan Majapahit.

Baca Juga: Belajar Kesederhanaan dari Gethuk, Jajanan Unik Khas Jawa yang Memiliki Cita Rasa Manis dan Legit Ketika Disantap

Dikutip SketsaNusantara.id dari YouTube channel FGLSN Manditi, asal-usul adanya makam Ki Ageng Balak bermula dari sebuah cerita seorang penggembala sekaligus pencari rumput yang mendapat bisikan suara untuk mengurus sebuah gundukan tanah tinggi di waktu menjelang Isya.

Cerita penggembala yang mendapat bisikan ghaib tersebut akhirnya sampai ke telinga warga dan terus menyebar dari mulut ke mulut hingga akhirnya gundukan tanah tinggi tersebut yang menjadi lokasi makam Ki Ageng Balak.

Makam Ki Ageng Balak awalnya hanya didatangi peziarah daerah setempat. Namun kini menjadi objek wisata religi yang dikunjungi oleh peziarah berbagai daerah.

Baca Juga: Mitos Puncak Gunung Lawu, Konon Jadi Tempat Pengasingan Prabu Majapahit Brawijaya V 

Tradisi yang sangat sakral juga menyelimuti makam Keramat Ki Ageng Balak, yakni bernama Pulung Langse.

Tradisi Pulung Langse merupakan upacara pergantian selambu/kain di atas makam Ki Ageng Balak yang dilakukan oleh juru kunci makam setiap akhir bulan Suro atau Muharram.

Tradisi Pulung Langse digelar dan diikuti oleh masyarakat setempat, apapun juga masyarakat menyiapkan gunungan berupa beragam buah dan sayuran hasil alam untuk nantinya diperebutkan sebagai penutup Pulung Langse.

Dikatakan bahwa perebutan gunungan membawa keberkahan dan keberuntungan dalam hidup.***

Halaman:

Tags

Terkini