Ia mencuri bersama Tumenggung Mojoroto dan Poncolono, rekan seperguruannya.
Karena ilmu rawa rontek itulah, pihak Belanda kesulitan untuk menangkap dan membunuh Maling Gentiri.
Akhirnya Belada pun mengadakan sayembara dengan hadiah besar untuk menangkap Maling Getiri.
Sayangnya, kelemahannya Maling Getiri terungkap hingga akhirnya ia tewas.
Kelemahan ilmu rawa rontek yakni dengan memisahkan kepala dan tubuh pemiliknya dengan sungai Brantas.
Itulah mengapa makam Mbah Boncolono atau Maling Gentiri pun berada di 2 lokasi yang berbeda di Kediri.
Dikutip dari situs budaya-Indonesia.org, kepala Maling Gentiri dikubur di kawasan Lapangan Joyoboyo dibawah pohon beringin.
Kawasan itu pun dikenal dengan nama Ringin Sirah.
Sementara tubuh Maling Gentiri disemayamkan di bukin Maskumambang, di dalam objek wisata Selomangkleng, Kediri.***