SketsaNusantara.id - Joko Tingkir merupakan salah satu sosok legendaris yang kisahnya masih jadi perbincangan masyarakat di Jawa Tengah hingga saat ini.
Salah satu kisah yang menarik untuk dibahas adalah legenda keberanian Joko Tingkir menaklukan 40 buaya saat perjalanan menuju ke Demak.
Berdasarkan catatan sejarah yang tertulis dalam Babad Tanah Jawa, Joko Tingkir lahir dengan nama asli Mas Karebet yang merupakan pendiri Kerajaan Pajang pada abad ke-16.
Joko Tingkir merupakan raja pertama Kesultanan Pajang yang diberi gelar Sultan Hadiwijaya. Sosoknya juga dikenal masyarakat sebagai orang yang memiliki kesaktian dan disegani sebagai pemimpin yang gagah berani.
Nama Joko Tingkir didapat dari orang tua angkatnya yakni Ki Ageng Tingkir, usai sang ayah yakni Ki Ageng Pengging dihukum mati oleh Sunan Kudus karena telah memberontak dan dianggap berkhianat terhadap Kerajaan Demak.
Setelah sang ayah meninggal, Nyi Ageng Pengging, ibunya meninggal karena sakit. Kehilangan kedua orang tuanya menjadikan Mas Karebet tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan gagah berani.
Ia pun mendapat berbagai ilmu bela diri dan pendidikan spiritual dari berbagai tokoh terkemuka mulai dari Ki Ageng Banyu Biru, Ki Ageng Sela hingga Sunan Kalijaga.
Joko Tingkir pun mendapat warisan pusaka dari Ki Ageng Banyu Biru berupa ikat pinggang atau timang Kyai Bajulgiling yang konon dapat membuatnya kebal dari segala macam benda tajam dan ditakuti semua binatang buas.
Usai berguru kepada Ki Ageng Banyu Biru hingga Sunan Kalijaga, Joko Tingkir yang saat itu masih muda diminta untuk mengabdikan diri kepada Kesultanan Demak dan diangkat menjadi pengawal pribadi kerajaan.
Baca Juga: 2 Kesaktian Pusaka Joko Tingkir Kyai Bajulgiling, Ditakuti saat Melawan Gerilyawan Majapahit
Hingga suatu hari, Joko Tingkir ditugaskan untuk menjadi kepala prajurit dan menyeleksi prajurit baru untuk kerajaan Demak.
Perjalanannya menuju Demak penuh dengan rintangan, salah satunya adalah harus menyeberangi Sungai Bengawan Solo yang terkenal dengan arus derasnya dan dihuni oleh banyak buaya.
Joko Tingkir pun mengalami hambatan dalam perjalanannya menuju Demak karena harus menghadapi sekitar 40 buaya saat melewati Kedung Srengenge yang masuk aliran Sungai Bengawan Solo.