Aris Munandar, sejarawan dan arkeolog menyebutkan bahwa leluhur Sunda Kuno saat itu tak membutuhkan candi untuk peribadatan, namun mereka hanya membangun batuan melingkar yang ditegakkan diatas tanah.
Melihat banyaknya jumlah circle stone di Desa Jahiyang ini maka diprediksi bahwa tempat itu merupakan tempat berkumpulnya para resi dan para raja untuk menghadap Sang Hyang Tunggal, atau Tuhan Yang Maha Esa.
Di area circle stone tersebut kemudian ditemukan beberapa tanaman yang disebut sebagai tanaman para Dewa seperti kecubung, gadung dan tanaman lainnya yang dipercaya sengaja ditanam disekitar circle stone untuk keperluan ibadah.
Dipercaya, sebelum mereka melakukan ibadah, terlebih dahulu akan mengkonsumsi tanaman-tanaman tersebut untuk menciptakan efek halusinasi untuk bertemu dengan arwah leluhur serta Sang Hyang Tunggal.
Dari uraian di atas, bisa dilihat bahwa orang-orang kuno mengkonsumsi kecubung untuk hal-hal yang bersifat ketuhanan, suci dan sakral.
Namun seiring zaman menjadi berubah fungsi, kecubung bukan tanaman suci lagi sebagai perantara manusia bertemu Tuhan namun menjadi tanaman pembawa maut bagi pemakainya.***