VOC diatur oleh Dewan Tujuh Belas (Heren Zeventien) yang berpusat di Belanda dan memiliki kantor di daerah-daerah monopoli mereka, menjadikannya perusahaan multinasional pada masanya.
Kekuatan VOC, yang sering disebut mirip dengan negara, terpusat pada Gubernur Jenderal di Nusantara yang dibantu oleh Dewan Hindia.
Pada pertengahan abad ke-17, VOC menjadi kekuatan dominan dalam perdagangan rempah-rempah, menjadikannya salah satu perusahaan terkaya pada masanya.
Namun, menjelang akhir abad ini, sejumlah faktor internal dan eksternal menyatukan kehancurannya.
Pasar Eropa bergeser dari rempah-rempah ke komoditas seperti teh, kopi, dan gula, yang menjanjikan keuntungan lebih besar.
VOC kehilangan dominasinya karena pesaing seperti Inggris dan East India Company mengambil alih posisi utama dalam perdagangan dan produksi komoditas baru ini.
Upaya perluasan budidaya rempah-rempah ke wilayah lain seperti pala di Karibia dan cengkeh di India juga mengurangi monopoli VOC di pasar global.
Biaya administrasi yang tinggi, termasuk untuk militer dan karyawan, memberatkan VOC.
Pada tahun 1700, biaya militer saja mencapai 12,2 juta gulden, menunjukkan beban finansial yang besar bagi perusahaan.
VOC juga terlibat dalam politik lokal di Jawa dan wilayah lain, seringkali sebagai penengah dalam konflik dinasti dan perselisihan lokal.
Baca Juga: Jalan dengan 9 Belokan Jadi Akses dari Sumatera Barat ke Riau, Ada Sejak Hindia Belanda 1908-1814
Hal ini mengalihkan perusahaan dari fokus utamanya pada perdagangan dan menambah beban finansial karena biaya terlibat dalam konflik yang mahal.