Ketujuh jenis kacang yang digunakan sebagai toping biasanya terdiri dari kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai, kacang mede, dan kacang-kacangan, yang melambangkan tujuh hari dalam satu minggu.
Toping tujuh jenis kacang itu pun juga ada maknanya. Masyarakat Jawa memaknai santapan hidangan bubur Suro bertabur tujuh jenis kacang sebagai doa agar selalu diberi berkah dan kelancaran dalam hidup setiap harinya.
Masyarakat Jawa juga melakukan tradisi bubur suro ini terinspirasi dari kisah Nabi Nuh.
Hal ini tertera dalam kitab kuno Nihyatuz Zain karangan ulama Nusantara bernama Syekh Nawawi dari Banten.
Dikisahkan Nabi Nuh dan para sahabatnya membuat bubur dengan semua bahan yang tersisa dalam kapal mengarungi banjir besar menggunakan.
Dari sinilah cikal bakal terbentuknya santapan lezat bubur suro untuk memperingati hari di mana Nabi Nuh selamat setelah 40 hari terombang ambing di tengah banjir besar.
Kini, bubur suro menjadi tradisi sebagai wujud syukur masyarakat menyambut tahun baru islam.***