Menurut mitos, Aji Saka adalah seorang pahlawan yang membawa peradaban, tata tertib, dan keteraturan ke Jawa dengan mengalahkan raja raksasa jahat yang menguasai pulau ini.
Aji Saka bersama pengawalnya, Dora, berangkat ke Pulau Jawa dan bertemu dengan Prabu Dewata Cengkar, seorang raja yang gemar memakan daging manusia.
Aji Saka menantang Prabu Dewata Cengkar untuk memakannya dengan syarat raja tersebut harus memberikan tanah seluas panjang sorban yang diikatkan di leher Aji Saka.
Baca Juga: Bukan Asli Tanah Jawa, Terungkap Tempat Lahir Sunan Ampel Wali Songo, Ternyata Bukan Dari Indonesia?
Prabu Dewata Cengkar menyetujui syarat tersebut dan mengukur tanah menggunakan sorban Aji Saka.
Dengan kekuatan luar biasa, sorban tersebut mencapai tepian laut Pantai Selatan.
Aji Saka kemudian menggulingkan Prabu Dewata Cengkar ke dalam laut, yang secara ajaib mengubahnya menjadi seekor buaya putih.
Setelah mengalahkan Prabu Dewata Cengkar, Aji Saka menjadi Raja di negara Medangkamulan.
Suatu hari, Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil keris pusaka yang ia titipkan kepada Sembada di Pulau Majeti.
Namun, karena kesalahpahaman, Dora dan Sembada tewas dalam pertempuran.
Sembada menjaga amanat Aji Saka bahwa tidak ada yang boleh mengambil keris pusaka tersebut selain dirinya.
Legenda ini juga menyebutkan bahwa Aji Saka adalah pencipta tarikh Tahun Saka, atau setidaknya raja pertama yang menerapkan sistem kalender Hindu di Jawa.
Malam 1 Suro bukan hanya peringatan tahun baru Islam bagi masyarakat Jawa, tetapi juga momen untuk mengenang sejarah dan mitos yang kaya akan nilai budaya dan spiritual.