Selanjutnya terdapat Gapura Kori Agung dan Tembok Keliling yang mengelilingi kedua Candi Utama, dan di empat sudut sisi candi terdapat candi perwara yang berbentuk stupa.
Yang menarik, candi Plaosan Lor memiliki keistimewaan dalam segi arsitekturnya. Terlihat dari bentuk bangunan yang berlantai dua, berbeda dengan candi pada umumnya.
Baca Juga: Mengenal Prasasti Tukmas Peninggalan Ratu Jay Shima, Bukti Luasnya Wilayah Kerajaan Kalingga
Candi utama memiliki 6 buah ruang, yaitu 3 buah ruang di lantai atas dan 3 buah ruang di lantai bawah.
Bangunan candi terdiri dari stupa yang menghiasi dan arca-arca Boddhisattva yang terdapat dalam relung candi.
Pada area dinding terdapat relief-relief yang menghiasi hampir seluruh bagian. Relief pada candi utama bagian utara menggambarkan perempuan dan candi utama bagian selatan menggambarkan laki-laki.
Candi Romantis
Yang unik, sejarawan banyak mengatakan perkawinan antara Mpu Manuku dengan Pramodhawardhani adalah perkawinan politis.
Prasasti Munduan menyebutkan bahwa Mpu Manuku sudah menjabat sebakai Rakai Patapan pada tahun 807.
Sementara Pramodhawardhani masih menjadi gadis pada tahun 824. Artinya sepasang suami istri tersebut terpaut usia yang cukup jauh.
Baca Juga: Pernah Menjadi yang Paling Berpengaruh di Asia! Inilah Sejarah Kejatuhan Kerajaan Majapahit
Krishna Bayu Adji dan sri Wintala Achmad dalam Perempuan-perempuan Tangguh Penguasa Tanah Jawa menguraikan bahwa Candi Plaosan memiliki sejarah romantika cinta antara Pramodhawardhani dan Rakai Pikatan Mpu Manuku.
Hal ini terlihat dari gaya arsitek campuran Budha, Agama yang dianut Pramodhawardhani dan Hindhu, Agama Mpu Manuku.
Maklum, pernikahan beda agama keduanya memang sekaligus menyatukan perseteruan antara Dinasti Syailendra yang beragama Budhha dengan Dinasti Sanjaya yang beragama Hindhu.