Misalnya, peserta Okol dilarang memelihara kuku. Saat pelaksanaan Okol, peserta wajib bertellanjang dada alias dilarang mengenakan baju atasan.
Tak itu saja, dalam Okol, peserta dilarang memukul, menjotos maupun menggigit lawan tandingnya.
Peserta dituntut mengedepankan teknis, kekuatan, ketangkasan dan strategi saat mengikuti gulat tradisional okol.
Peserta yang dinyatakan kalah, adalah mereka yang jatuh lebih dahulu ke tanah dibandingkan lawannya.
Layaknya sebuah pertandingan Gulat, Okol tak hanya diikuti oleh peserta belaka. Namun juga ada wasit, penonton dan sejumlah aturan yang harus diikuti.
Yang menarik, sebelum Okol dilaksanakan, digelar pula kegiatan tahlilan atau istighosah sehari sebelum kegiatan berlangsung.
Yang jelas, tradisi Okol merupakan salah satu bukti dari kekayaan warisan budaya tak benda masyarakat Kabupaten Pamekasan.
Tujuannya untuk mewujudkan nilai-nilai, tradisi, dan semangat kebersamaan daerah tersebut dan menjadi semakin memperkaya warisan budaya nusantara.***