Minggu, 19 Juli 2026

Padahal Cuma Lihat Sapi Tapi Bisa Sedot Daya Tarik Wisatawan, Ini Keistimewaan Tradisi Unik di Pasuruan Untuk Memperingati Hari Raya Idul Adha

Photo Author
Qorry 'Aina Damayanti, Sketsa Nusantara
- Minggu, 9 Juni 2024 | 14:30 WIB
Ilustrasi tradisi unik di Pasuruan memperingati Hari Raya Idul Adha (Pixabay.com/ TheDigitalArtist)
Ilustrasi tradisi unik di Pasuruan memperingati Hari Raya Idul Adha (Pixabay.com/ TheDigitalArtist)

 

SketsaNusantara.id - Kalau mendengar kata "manten," mungkin yang terlintas adalah sepasang pengantin yang sedang melangsungkan pernikahan. Namun, di Pasuruan, Jawa Timur, istilah ini punya makna lain yang tak kalah menarik.

Manten Sapi merupakan sebuah tradisi unik yang dilakukan masyarakat Pasuruan untuk memperingati Hari Raya Idul Adha. Tradisi ini tidak hanya menonjolkan aspek religius, tetapi juga memadukan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang sudah turun-temurun.

Manten Sapi adalah tradisi di mana sapi-sapi yang akan dikurbankan pada Hari Raya Idul Adha dirias layaknya pengantin. Sapi-sapi tersebut diberi kalung bunga, dihiasi dengan kain berwarna-warni, dan terkadang ada yang dipakaikan selendang serta hiasan lainnya. 

Baca Juga: 3 Larangan Bagi Orang yang Berkurban pada Hari Raya Idul Adha, Wajib Tahu Bahwa Potong Kuku dan Rambut Hukumnya...

Biasanya, ritual unik ini dilakukan sehari sebelum penyembelihan hewan kurban. Hal ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada hewan yang akan dikurbankan.

Dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube Vicky Vick, persiapan Manten Sapi dimulai jauh sebelum hari H. Para peternak dan pemilik sapi akan memilih sapi terbaik yang akan dijadikan manten. Sapi-sapi ini dirawat dengan sangat baik, diberi makan yang cukup, dan dijaga kesehatannya. Ketika hari perayaan mendekat, sapi-sapi ini kemudian dimandikan dan diberi wewangian.

Pada hari pelaksanaan, sapi-sapi tersebut dirias dengan kain kafan, serban, sajadah, dan kalung bunga tujuh rupa. Riasan ini bukan sembarang riasan, melainkan memiliki makna spiritual tersendiri. Kain kafan melambangkan kesucian, serban dan sajadah menunjukkan bahwa hewan tersebut akan dikurbankan sebagai bentuk ibadah.

Setelah dirias, sapi-sapi ini kemudian diarak menuju tempat penyembelihan. Arak-arakan ini biasanya dilakukan dari rumah pemilik sapi menuju masjid atau lapangan tempat penyembelihan. Sepanjang jalan, arak-arakan ini diiringi dengan lantunan shalawat, zikir, dan doa-doa. Masyarakat sekitar juga turut hadir untuk menyaksikan dan meramaikan prosesi ini.

Sesampainya di tempat penyembelihan, sapi-sapi tersebut disambut dengan tepuk tangan dan doa dari para warga. Prosesi ini menunjukkan betapa masyarakat Pasuruan sangat menghargai dan menghormati momentum kurban sebagai wujud kepatuhan dan rasa syukur kepada Allah.

Baca Juga: Sambut Hari Raya Idul Adha 1445 H, Ini Bacaan Niat Sholat Ied untuk Imam dan Makmum

Tradisi Manten Sapi memiliki makna yang dalam dan sarat dengan nilai-nilai religius serta sosial. Pertama, tradisi ini mengajarkan pentingnya menghormati hewan kurban yang akan disembelih. Dengan merias sapi-sapi tersebut, masyarakat menunjukkan rasa syukur dan penghargaan terhadap hewan yang akan menjadi medium untuk ibadah kurban.

Kedua, Manten Sapi juga memperkuat tali silaturahmi dan kebersamaan di antara warga. Prosesi arak-arakan dan penyembelihan yang dilakukan bersama-sama menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan sosial di tengah-tengah masyarakat.

Tradisi Manten Sapi kini tidak hanya menarik perhatian warga lokal, tetapi juga wisatawan dan media. Banyak orang yang datang ke Pasuruan untuk menyaksikan tradisi unik ini. Bahkan, tradisi ini sudah beberapa kali diliput oleh media nasional dan internasional. Salah satu video yang menunjukkan keindahan dan kekhusukan tradisi ini bisa kamu tonton di YouTube, yang memperlihatkan detail persiapan hingga pelaksanaan Manten Sapi.

Manten Sapi merupakan salah satu tradisi unik yang menunjukkan betapa kaya budaya Indonesia. Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk ibadah, tetapi juga wujud penghormatan terhadap hewan kurban dan penguatan tali silaturahmi antarwarga. Dengan mempertahankan tradisi ini, masyarakat Pasuruan tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai luhur yang patut dicontoh.***

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Sumber: Youtube Vicky Vick

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X