1. Wujud Pengendalian Diri.
Pada zaman dahulu, masyarakat Jawa khususnya para laki-laki akan selalu memanjangkan rambutnya
Tetapi, mereka tidak akan membiarkan rambutnya berantakan dengan cara selalu mengikatnya atau menggulung rapi ke belakang kepala dengan memakai kain.
Mereka hanya akan menguraikan rambut saat berada di rumah atau dalam sebuah perkelahian atau peperangan.
Saat rambut laki-laki terurai, maka itu menunjukkan sebagai wujud luapan emosi atau puncak kemarahan.
Jadi, penggunaan blangkon adalah sebagai peringatan dasar agar selalu bersikap lembut dan menahan emosi atau wujud pengendalian diri.
2. Nilai-Nilai Keislaman
Nilai-nilai Islam pada blangkon dikenalkan oleh Sunan Kalijaga yang memang pada dakwahnya mengakulturasikan antara budaya Jawa dengan Islam, salah satunya ada pada blangkon.
Masuknya Islam menambahkan makna pada kebiasaan menggunakan blangkon dimana orang Jawa akan selalu menjaga bagian kepala dan rambunya bagaikan mahkota yang terhormat.
Bentuk blangkon terdiri dari lipatan melingkar untuk menutupi kepala dan ada mondolan atau bulatan di bagian belakang.
Kain blangkon yang menutupi kepala sebanyak 17 lipatan melambangkan ada 17 rakaat dalam 5 waktu shalat.
Mondolan di bagian belakang melambangkan sebagai pengingay agar penggunanya selalu menjalankan perintah dan tidak menutup mata pada Yang Maha Kuasa.