Persiapan upacara Rambu Solo melibatkan beberapa aktivitas pendahuluan seperti pertemuan keluarga, pembuatan pondok-pondok upacara, penyediaan peralatan upacara, dan persediaan kurban.
Jumlah kerbau yang dikurbankan disesuaikan dengan stratifikasi sosial masyarakat.
Misalnya, untuk golongan rapasan atau bangsawan, jumlah kerbau yang dipotong lebih banyak dibandingkan dengan masyarakat biasa.
Selain biaya besar untuk pemotongan kerbau belang atau tedong bonga, upacara ini juga melibatkan pemotongan kerbau biasa dan babi yang jumlahnya bisa mencapai ratusan bahkan ribuan ekor.
Pengeluaran ini dilakukan sebagai bagian dari tradisi tanpa memikirkan pendapatan yang dihasilkan.
Baca Juga: Penasaran Gak Sih? Gak Nyangka, Ini Alasan Warga Sunda Jatuh Cinta Sama Kuliner Gurih dan Pedas
Mayat dalam tradisi Rambu Solo biasanya disimpan di atas rumah adat Toraja atau tongkonan hingga keluarga mampu menyelenggarakan upacara dengan lengkap.
Mayat tersebut kemudian diarak dan dibawa ke tempat pemakaman terakhir, biasanya di tebing.
Upacara ini penuh dengan simbolisme, termasuk simbol dalam ritual, nyanyian, bangsawan, arwah, dan kerbau.
Baca Juga: Tidak Hanya Ayam Taliwang, 4 Makanan Khas Sasak Ini Wajib Kamu Coba Saat ke Lombok
Rambu Solo mencerminkan nilai luhur gotong royong, tolong-menolong, dan saling percaya antarwarga masyarakat Toraja.
Upacara ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum, tetapi juga sebagai perwujudan dari hubungan sosial dan tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad.***