Gerakan mendadak sorban itu melempar Dewata Cengkar ke Laut Selatan. Sang raja kemudian berubah wujud menjadi buaya putih. Medang Kamulan pun terbebas dari teror.
Aji Saka kemudian dinobatkan sebagai raja dengan gelar Prabu Anom Aji Saka. Setelah beberapa hari memerintah, ia memerintahkan Dora mengambil keris pusaka dari Sembada.
Dora berangkat ke Pegunungan Kendeng untuk menemui sahabatnya. Sembada menolak menyerahkan pusaka karena memegang pesan tuannya. Keduanya akhirnya bertarung sengit.
Pertarungan berlangsung seimbang dan berakhir tragis. Dora dan Sembada sama-sama tewas mempertahankan amanat. Keduanya gugur demi kesetiaan kepada Aji Saka.
Untuk mengenang pengorbanan mereka, Aji Saka menciptakan rangkaian aksara. Rangkaian itu dikenal sebagai dhentawyanjana. Bunyi aksara tersebut berbunyi:
HA NA CA RA KA
Ana utusan (ada utusan)
DA TA SA WA LA
Padha kekerengan (sama-sama menjaga pendapat)
PA DHA JA YA NYA
Padha digdayané (sama-sama sakti)
MA GA BA THA NGA
Padha dadi bathangé (sama-sama mejadi mayat)
Rangkaian itu merangkum kisah utusan, kesetiaan, kesaktian, hingga kematian. Hingga kini, aksara tersebut menjadi dasar tulisan Jawa. Warisan ini terus hidup dalam tradisi budaya masyarakat.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!