SketsaNusantara.id - Legomoro dikenal sebagai salah satu kuliner tradisional khas Kotagede, Yogyakarta.
Kudapan ini kerap disandingkan dengan lemper karena bentuk dan bahan yang serupa. Meski begitu, legomoro memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari panganan lain.
Makanan ini dibungkus menggunakan daun pisang dengan ikatan rafia atau janur. Ikatan tersebut membuat legomoro berbentuk padat, rapi, dan mudah disajikan.
Bentuknya yang kokoh menjadikan legomoro mudah dikenali di antara jajanan tradisional Jawa.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Jogajaprov.go.id, nama legomoro berasal dari bahasa Jawa yang memiliki makna simbolis.
Kata “lego” berarti lega, sedangkan “moro” berarti datang. Gabungan dua kata tersebut melambangkan rasa keterbukaan dan keramahan dalam menyambut tamu.
Baca Juga: Jejak Sejarah Kuliner 'Miskin' di Yogyakarta yang Kini Jadi Favorit Semua Kalangan
Dalam tradisi masyarakat Kotagede, makna tersebut tidak dilepaskan dari nilai sosial. Legomoro kerap disajikan pada momen tertentu yang melibatkan kebersamaan.
Penyajiannya mencerminkan sikap menerima dan menghormati kehadiran orang lain.
Legomoro dipercaya telah dikenal sejak abad ke-17. Kudapan ini berkembang seiring sejarah Kotagede sebagai pusat Kerajaan Mataram Islam.
Keberadaannya menjadi bagian dari tradisi kuliner yang tumbuh di lingkungan kerajaan dan masyarakat sekitarnya.
Sebagai bagian dari warisan kuliner, legomoro tidak hanya berfungsi sebagai makanan.
Kudapan ini juga merepresentasikan identitas budaya lokal yang terus diwariskan. Proses pembuatannya mengikuti pola tradisional yang relatif tidak banyak berubah.