Pada 1926 Wayang Orang Sriwedari mendapatkan kesempatan untuk melakukan promosi melalui siaran radio yakni pada radio Solosche Radio Vereeniging.
Pada kesempatan itu Wayang Orang Sriwedari melakukan sandiwara di udara dan mulai dikenal masyarakat serta disukai banyak kalangan.
3. Bercerita Epos Mahabharata dan Bharatayudha
Cerita-cerita yang dibawakan oleh Wayang Orang Sriwedari adalah seputar Epos Mahabharata dan Bharatayudha.
Bagi para penonton muda, cerita ini seakan memberikan nuansa nostalgia karena memberikan gambaran kisah yang pernah disampaikan orang tua, atau kakek dan nenek mereka.
4. Perkembangan di Era Digital
Perkembangan Wayang Orang Sriwedari mengalami banyak tantangan, terutama dengan berkembangnya budaya dan teknologi modern.
Namun banyak inisiatif yang dilakukan sehingga pementasan Wayang Orang Sriwedari tetap digemari oleh masyarakat.
Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah dengan cara mengubah tata cahaya, tata rias, tata musik dan cara menjual tiket.
Selain itu, gaya bahasa juga diubah. Jika sebelumnya menggunakan bahasa Jawa halus, maka berkembang dengan melakukan kombinasi bahasa Indonesia.
Cerita-cerita yang disampaikan juga dikombinasikan dengan latar kehidupan sehari-hari sehingga memberikan daya tarik bagi penonton-penonton muda.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!