Di Pulau Bintan, ada komunitas yang membangun gereja berkat bantuan seorang Tionghoa dermawan pada masa awal Orde Baru. sebuah kisah yang menandai keharmonisan lintas agama di wilayah itu.
Bagi masyarakat Suku Laut, daratan dianggap sebagai tempat yang “tidak masuk akal”. Mereka mempercayai bahwa daratan hanya untuk mengubur orang mati. Karena itu, rumah di atas air menjadi simbol kemurnian dan keterikatan dengan laut yang mereka yakini memberi kehidupan.
2. Suku Lamalera: Tradisi Lefa dan Ritual Laut Flores
Di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, Suku Lamalera dikenal dengan tradisi menangkap ikan paus menggunakan peralatan tradisional.
Aktivitas ini disebut lefa atau olanua dan berlangsung setiap Mei hingga Oktober. Tradisi ini dilakukan dengan perahu kayu (peledang), tali dari serat alami, dan tombak logam (tempuling).
Setelah agama Katolik masuk pada 1886, tradisi olanua berpadu dengan misa dan doa pemberkatan di pantai.
Upacara adat dan keagamaan berjalan berdampingan, menciptakan bentuk inkulturasi khas antara budaya lokal dan ajaran Gereja.
Dalam setiap musim tangkap, hasil pertama diberikan kepada janda, yatim piatu, dan fakir miskin.
Mereka juga melarang menangkap ikan paus yang sedang bunting, menunjukkan kesadaran ekologis yang kuat. Bagi masyarakat Lamalera, laut dan darat adalah dua dunia yang saling menentukan, keduanya harus dijaga agar kehidupan tetap seimbang.
3. Suku Banjar: Peradaban Sungai di Kalimantan Selatan
Suku Banjar hidup di sepanjang sungai besar Kalimantan Selatan, terutama di sekitar Sungai Barito dan Martapura.
Rumah mereka berbentuk panggung, disebut rumah lanting, dibangun di atas air rawa atau tepian sungai. Sungai menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, dan interaksi sosial.
Pasar terapung di Banjarmasin adalah warisan budaya Banjar yang masih bertahan hingga kini.
Para pedagang berlayar menggunakan perahu kecil (jukung) untuk menjual hasil kebun dan pangan. Aktivitas ini menggambarkan hubungan erat antara ekonomi rakyat dan alam perairan.
Perahu juga menjadi sarana perdagangan antar daerah. Di daerah aliran Sungai Barito, masyarakat memproduksi perahu besar bernama jukung Barito, bukti keahlian maritim yang diwariskan turun-temurun.