SketsaNusantara.id - Kisah perjuangan Sri Sultan Hamengku Buwono II menjadi salah satu bab penting dalam sejarah Yogyakarta dan perlawanan terhadap kolonialisme di Jawa.
Lahir di lereng Gunung Sindoro pada 7 Maret 1750, ia dikenal sebagai raja dengan watak keras dan nasionalis jauh sebelum istilah itu dikenal.
Sosoknya tidak hanya tercatat dalam catatan politik, tetapi juga meninggalkan warisan budaya dan sastra yang berpengaruh.
Baca Juga: 7 Warisan Pangeran Mangkubumi yang Membentuk Yogyakarta hingga Kini
Masa kecil Sri Sultan Hamengku Buwono II, yang saat itu bernama Raden Mas Sundoro, dilalui di tengah situasi perang melawan VOC.
Dilansir dari situs kratonjogja.id, kondisi pengungsian bersama ibundanya, Gusti Kanjeng Ratu Kadipaten, membentuk karakter tangguh dan perlawanan terhadap dominasi asing.
Ketegasan tersebut kemudian mewarnai seluruh perjalanan hidupnya sebagai penguasa Yogyakarta.
Pewaris Dinasti Mataram
Setelah Perjanjian Giyanti pada 1755, keluarga besar Sultan Hamengku Buwono I berpindah ke Keraton Yogyakarta.
Di sinilah Raden Mas Sundoro mulai mendapat kepercayaan besar dari sang ayah. Ketika dikhitan pada tahun 1758, ia diangkat menjadi putra mahkota menggantikan kakaknya, Raden Mas Ento, yang wafat muda.
Pujangga keraton mencatat bahwa pengangkatan itu dilakukan untuk menandai pergantian abad dalam perhitungan kalender Jawa.
Sejak saat itu, RM Sundoro dipersiapkan menjadi penerus tahta Keraton Yogyakarta. Dalam perjalanan hidupnya, ia menunjukkan perhatian besar pada kedaulatan kerajaan dan kekuatan militer, terutama ketika melihat dampak perjanjian Giyanti dan Semarang yang mempersempit wilayah kekuasaan raja-raja Jawa.