SketsaNusantara.id - Aksara Jawa adalah salah satu jenis aksara tradisional yang dimiliki Indonesia.
Asal-usul aksara Jawa berkaitan dengan legenda Aji Saka yang mengutus dua abdinya untuk menjaga dan mengambil sebuah pusaka.
Keduanya bernama Dora dan Sembada yang mati secara bersamaan karena masing-masing menjaga kesetiaannya kepada Aji Saka.
Aji Saka kemudian mengabadikan keduanya ke dalam sebuah aksara Hanacaraka atau Honocoroko yang hingga kini dikenal sebagai aksara Jawa.
Honocoroko merupakan aksara perkembangan dari aksara Pallawa (dinasti yang berkuasa di wilayah Asia Selatan pada abad ke-4 - 9 Masehi) sejak abad ke-5 Masehi.
Dikutip SketsaNusantara.id dari indonesia.go.id, saat ini terdapat 12 aksara tradisional yang menjadi kekayaan kesusastraan dan budaya di Indonesia.
Di antaranya adalah aksara Jawa, Bali, Sunda Kuno, Bugis atau Lontara, Rejang, Lampung, Karo, Pakpak, Simalungun, Toba, Mandailing, dan Kerinci (Rencong atau Incung).
Seperti aksara tradisional lainnya, Aksara Jawa memiliki sejarah dan makna filosofis yang menjadi ciri khas budaya masyarakat Jawa.
Dikutip SketsaNusantara.id dari ubaya.ac.id, berikut makna filosofis dari setiap baris pada Aksara Jawa.
Ho No Co Ro Ko
Baris pertama dalam aksara Jawa ini memiliki makna “ono utusaning pangeran” yang berarti “adanya utusan Tuhan”.