Sepasang gamelan tersebut memiliki nama masing-masing yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nagawilaga.
Dilansir SketsaNusantara.id dari kratonjogja.id, seperangkat Gangsa (gamelan) yang dimiliki oleh Kraton Yogyakarta pada mulanya keduanya merupakan warisan dari Kerajaan Mataram, yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari.
Setelah Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 yang membagi Kerajaan Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, Kyai Guntursari diserahkan pada Kasunanan Surakarta.
Baca Juga: 2 Masakan Telur Legendaris Favorit Sultan Kraton Yogyakarta, Warisan Nusantara yang Kaya Rempah
Gangsa Sekaten seperti awal mulanya adalah sepasang, oleh karena itu agar kembali pada kelengkapan semula, Kasultanan Yogyakarta membuat putran (duplikasi) dari Kyai Guntursari yang diberi nama Kyai Nagawilaga.
Tahapan-Tahapan Upacara Sekaten
Upacara Sekaten dilakukan dengan berbagai rangkaian acara. Secara garis besar terdapat 4 acara inti, di antaranya adalah:
1. Tahap Gamelan Pusaka Sekaten dibunyikan pertama kali, sebagai pertanda dimulainya Upacara Sekaten.
Dalam tahap ini diselenggarakanlah Upacara Udhik-Udhik, yaitu menyebar biji-bijian dan uang logam yang dimaksudkan sebagai simbol sedekah, doa keselamatan, dan kesejahteraan dari Raja kepada rakyatnya.
2. Tahap Gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Gedhe Kauman, di Pagongan sebelah Utara dan Selatan.
Pagongan adalah sepasang bangunan yang terletak saling berhadapan di halaman Masjid.
3. Tahap Sri Sultan dan pengiringnya hadir di Masjid Gedhe Kauman untuk mendengarkan pembacaan riwayat Maulid Nabi Muhammad. Dalam tahap ini diselenggarakanlah Upacara Udhik Udhik, di Pagongan dan di serambi Masjid.
4. Tahap dikembalikannya Gamelan Sekaten dari halaman Masjid Gedhe Kauman ke dalam Kraton Yogyakarta untuk menandai ditutupnya Upacara Sekaten.
Garebeg Mulud Sebagai Penutup Acara