SketsaNusantara.id - Bagi masyarakat Jawa, bulan Muharram lebih akrab dengan sebutan Bulan Suro atau Sura.
Penamaan Suro juga digunakan dalam kalender Jawa yang diciptakan Sultan Agung dengan menggabungkan kalender Islam dan Saka (Hindu-Budha).
Kata Suro sendiri berasal dari bahasa Arab yakni Asyura yang mengacu pada tanggal 10 Muharram.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sering dianggap sebagai bulan spiritual hingga bulan prihatin.
Bulan Suro sering digunakan sebagai momen untuk merefleksikan diri dan penyucian jiwa bagi masyarakat Jawa.
Bulan pertama dalam kalender Jawa ini juga dimangaatkan sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Salah satunya dengan menghindari sejumlah kegiatan duniawi dan memperbanyak tirakat atau kegiatan spiritual lainnya.
Baca Juga: Bertepatan dengan 1 Muharram, Inilah Mitos dan Pantangan Malam 1 Suro Dalam Masyarakat Jawa
Tak heran jika kemudian lahir berbagai mitos dan pantangan di Bulan Suro dalam tradisi masyrakat Jawa.
Dari hasil penelusuran tim redaksi, ada beberapa pantangan di Bulan Suro yang hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Jawa.
Salah satunya larangan menikah dibulan Suro yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa.