"Ia tidak sendiri. Bersama pemandu lokal dan penduduk setempat, mereka membawa air, peralatan, dan semangat kemanusiaan tanpa pamrih. Tanpa bayaran dan tanpa menuntut pujian, mereka menunjukkan bahwa di tengah rasa sakit, masih ada belas kasih. Aksi mereka mengingatkan dunia bahwa kemanusiaan masih hidup. Semoga tidak pernah kekurangan sosok-sosok pahlawan luar biasa seperti @agam_rinjani dan para relawan lainnya," imbuhnya.
Pujian ini mencerminkan apresiasi internasional terhadap upaya Agam, meskipun operasi penyelamatan tidak berhasil menyelamatkan nyawa Juliana.
Kisah Agam tidak hanya tentang keberaniannya tetapi juga tentang peran vital guide atau pemandu lokal yang ikut memajukan industri pariwisata Indonesia.
Guide seperti Agam sering kali menjadi garis depan dalam menjaga keselamatan pengunjung, terutama di kawasan berisiko tinggi seperti Gunung Rinjani.
Namun, mereka juga menghadapi tantangan, termasuk kurangnya infrastruktur penyelamatan memadai di tengah kondisi alam dan cuaca ekstrem yang tak menentu.
Tragedi Juliana Marins menjadi momen refleksi bagi pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan dukungan terhadap guide lokal, termasuk dengan adanya bantuan teknologi seperti drone berat yang bisa membantu operasi penyelamatan di masa depan.
Dalam konteks ini, Agam bukan hanya seorang guide biasa, tetapi juga simbol perjuangan dan pengorbanan di tengah keterbatasan.
Dedikasinya menginspirasi banyak orang, baik di Indonesia maupun di luar negeri, untuk menghormati dan mendukung pekerjaan berisiko tinggi ini.
Meskipun akhirnya Juliana Marins tidak selamat, usaha Agam tetap dikenang sebagai contoh nyata dari semangat kemanusiaan yang tak kenal lelah.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini