SketsaNusantara.id - Pembelajaran sejarah di sekolah sering kali hanya menyentuh permukaan, antara lain sering membahas kerajaan, tokoh penting, dan perang-perang besar.
Namun, sistem sosial yang membentuk kehidupan sehari-hari rakyat zaman Majapahit dan Demak justru jarang dibahas secara mendalam.
Padahal, struktur sosial ini membentuk tatanan masyarakat yang begitu ketat dan bahkan kadang kejam.
Lewat perbandingan antara era Majapahit yang Hindu-Buddha dan Demak yang Islam, terlihat adanya status sosial yang dibagi ke dalam 7 golongan, lengkap dengan gelar, peran, dan stigma sosial masing-masing.
Artikel ini disusun berdasarkan data yang dikutip SketsaNusantara.id dari buku Atlas Wali Songo yang ditulis KH Agus Sunyoto.
1. Brahmana vs Ulama: Elit Rohani Dua Zaman
Di Majapahit, golongan tertinggi adalah Brahmana, tokoh agama Hindu-Buddha dengan gelar seperti ccarya, wiku, pandhita, kyayi, hingga ajar. Peran mereka adalah penjaga spiritual kerajaan.
Di era Demak, peran itu digantikan oleh Ulama. Gelar-gelar seperti sunan, panembahan, kyayi ageng, hingga susuhunan menggambarkan posisi mereka sebagai tokoh keagamaan paling dihormati.
KH Agus Sunyoto menulis, “Gelarnya pun berubah mengikuti corak Islam, tapi fungsinya tetap sebagai pemuka rohani masyarakat.”
2. Ksatria dan Satria: Bangsawan Pemegang Kuasa
Di Majapahit, Ksatria adalah golongan penguasa, dengan gelar khas seperti raden, rakryan, gusti, dan sebagainya. Di Demak, sebutannya menjadi Satria, namun fungsinya tetap sama sebagai elite politik dan militer.