Sayangnya, banyak dari artefak itu kini hilang, baik karena pencurian maupun dijual ke luar negeri. Beberapa bahkan dilaporkan sampai ke Jerman.
Dalam pendataan ulang terbaru, tersisa sekitar 335 benda bersejarah yang masih dapat ditemukan dan diamankan. Sebagian besar ditemukan di persawahan, sungai, dan bahkan di pekarangan rumah warga.
Keberadaan situs ini menjadi pengingat penting bahwa masyarakat purba Indonesia telah memiliki sistem kepercayaan dan budaya yang kompleks jauh sebelum datangnya agama formal. Batu-batu yang tersisa di Duplang menyimpan pesan tentang hubungan spiritual manusia dengan alam dan leluhurnya.
Tak heran jika sejak 1980-an, situs ini terus dijaga dan mulai dijadikan pusat edukasi sejarah. Sekolah-sekolah di Jember dan sekitarnya sering mengadakan kunjungan untuk mengenalkan budaya megalitikum kepada generasi muda.
Pemerintah daerah bersama komunitas arkeologi juga terus mendorong pelestarian Duplang sebagai warisan budaya tak ternilai, sembari berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar agar turut menjaga keberadaan situs ini.
Dengan segala peninggalan dan kisah yang terkandung di dalamnya, Duplang bukan sekadar tumpukan batu. Ia adalah pengingat bahwa jauh sebelum kita lahir, para leluhur telah membangun tradisi, spiritualitas, dan kebudayaan yang canggih untuk zamannya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!