Limbuk adalah anak sekaligus penerus Cangik. Ia menjalani fase magang dalam kesetiaan dan kedewasaan.
Lambat laun, jika ia bertahan dalam pengabdian tanpa pamrih, tubuh dan jiwanya akan "mengurus" seperti ibunya, menggambarkan kedewasaan spiritual.
Dalam budaya Jawa, posisi Cangik dan Limbuk sangat dekat dengan sang junjungan. Mereka tinggal bersama, makan dari dapur yang sama, bahkan menjaga anak-anak sang permaisuri.
Di masa kini, posisi ini bisa disejajarkan dengan "asisten pribadi" atau orang dalam lingkaran ring satu, posisi kepercayaan tinggi dalam pemerintahan atau kerajaan.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!