Mitra Tani menggunakan es balok untuk mendinginkan kedelai setelah direbus, agar warnanya tetap segar sebelum diekspor ke negara-negara Asia bahkan Eropa, dan Amerika Serikat.
Pabrik Es Telengsari mampu memproduksi hingga 6.000 balok es per hari. Namun, saat ini produksi disesuaikan dengan permintaan pasar hanya sekitar 500-600 balok es.
Setiap balok es dijual dengan harga sekitar Rp12.500. Pabrik ini beroperasi selama 24 jam penuh dengan sistem shift yang melibatkan 15 karyawan.
Dari segi arsitektur, bangunan utama pabrik ini masih mempertahankan gaya kolonial Belanda, menjadikannya salah satu aset bersejarah di Jember.
Menariknya, mesin dalam pabrik ini masih menggunakan buku manual berbahasa Jerman dan Belanda yang sudah ada sejak awal perusahaan ini diresmikan.
Tempat pendingin es balok pun berada dalam air yang sangat dalam seperti diletakkan dalam bunker berisi air. Di bunker ini, air yang berada dalam wadah ice can dibekukan selama 24 jam.
Dulu, Pabrik Es Telengsari sempat ramai jadi sorotan karena kabarnya akan dibongkar dan lahannya akan dibangun supermarket. Namun, rencana tersebut mendapat penolakan dari warga Jember.
Pabrik Es Telengsari tidak hanya berperan dalam industri, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah dan budaya lokal.
Keberadaannya yang telah melewati lebih dari satu abad menunjukkan ketahanan industri terhadap perubahan zaman.
Bagi masyarakat Jember dan sekitarnya, Pabrik Es Telengsari bukan sekadar tempat produksi es, tetapi juga representasi dari sejarah panjang dan kontribusi terhadap perekonomian lokal.
Keberadaan pabrik ini dari tahun 1915 yang terus eksis hingga kini menjadi simbol keberlanjutan dan warisan industri zaman kolonial yang tetap melayani kebutuhan masyarakat Jember.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini