5. Kartini Dikenal sebagai Duta Seni dan Budaya Indonesia
Tak hanya dikenal sebagai tokoh pelopor emansipasi wanita, Kartini juga dikenal sebagai duta seni dan budaya Indonesia. Ia memperkenalkan batik dan ukiran Jepara ke luar negeri.
Dalam bukunya "Handschrift Japara", Kartini membahas seni membatik yang meningkatkan perhatian masyarakat Eropa terhadap karya seni budaya Nusantara.
Tak hanya itu, Kartini juga memperkenalkan ukiran Jepara ke dunia luar melalui pemberikan cinderamata kepada teman-teman Belanda.
Bahkan, Kartini pernah mengirimkan beberapa karya pengrajin Jepara mengikuti Nationale Tentoonstelling voor Vrouwenarbeid (Pameran Nasional Karya Wanita) di Den Haag, Belanda.
Baca Juga: Ulama Jepara Penentang Penjajah yang Terkenal akan Bambu Runcingnya, Pernah Ditangkap Tentara Jepang
6. Kartini Pernah Jadi Juru Dakwah Islam
Kartini adalah sosok muslimah yang tidak hanya berjuang untuk emansipasi wanita, tetapi juga pernah jadi juru dakwah untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Mengutip dari laman resmi Kemenag RI, Kartini belajar banyak dari Kiai Sholeh Darat, seorang ulama yang terkenal dengan tafsir Al-Qur'an dalam bahasa Jawa.
Kartini percaya bahwa pendidikan agama, sangat penting untuk membebaskan perempuan dari belenggu ketidakadilan dengan memperluas pemahaman tentang ajaran Islam.
Sosoknya menjadi contoh nyata bagaimana seorang wanita Muslim dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif di masyarakat.
7. Kartini Meninggal Dunia di Usia Muda
Kartini meninggal dunia saat usianya 25 tahun pada 17 September 1904, setelah melahirkan putranya yang diberi nama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat.
Kartini wafat 4 hari setelah melahirkan anak pertamanya, diduga akibat preeklamsia, sebuah komplikasi kehamilan yang hingga kini masih menjadi penyebab kematian ibu melahirkan.