SketsaNusantara.id - Istilah halal bihalal merupakan sebuah tradisi di Indonesia yang merupakan momen saling bermaaf-maafan dan mempererat tali silaturahmi antar sesama.
Meski demikian, halal bihalal baru populer di masa kemerdekaan Indonesia meskipun nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut, seperti saling memaafkan dan mempererat silaturahmi, sudah ada sejak zaman Wali Songo.
Halal bihalal sendiri bernula dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, di mana Rasulullah bersabda bahwa orang yang punya kesalahan kepada saudaranya, kawannya, tetangganya maka segeralah minta di halalkan, minta di maafkan sehingga arti halal bihalal merupakan maaf memaafkan sebelum hari kiamat.
Hal itu pula yang kemudian diajarkan Wali Songo dalam menyebarkan ajaran Islam yang menekankan pentingnya persaudaraan, perdamaian, dan saling memaafkan meskipun saat itu belum mengenal istilah halal bihalal.
Akan tetapi Wali Songo mengajarkan tentang nilai-nilai silaturahim yang sejalan dengan esensi halal bihalal untuk memperkuat tali persaudaraan antar sesama manusia.
Istilah halal bihalal sendiri merupakan tradisi khas Indonesia yang dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri di mana momen ini menjadi momen saling bermaaf-maafan dan mempererat tali silaturahmi antar sesama.
Tradisi halal bihalal di Nusantara diperkirakan sudah ada sejak masa Mangkunegara I (Pangeran Sambernyawa) di Solo. Saat itu, raja mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit setelah shalat Idul Fitri untuk saling bermaaf-maafan.
Tradisi ini dilakukan sebagai cara untuk menghemat waktu dan tenaga dalam menjalankan tradisi bermaaf-maafan saat lebaran.
Tradisi ini semakin populer di masa kemerdekaan Indonesia, di mana tahun 1948, KH. Abdul Wahab Hasbullah mengusulkan tradisi ini kepada Presiden Soekarno sebagai cara untuk meredakan ketegangan politik sebagaimana dirangkum dari unpas.ac.id.
Baca Juga: Mengenal Tradisi Bagi-Bagi Uang saat Momen Hari Raya Idul Fitri dan Hukumnya, Punya Banyak Nilai...
Tradisi halal bihalal di Indonesia berawal dari situasi politik yang tidak sehat pasca kemerdekaan yang penuh ketegangan termasuk pemberontakan DI/TII yang membuat Soekarno kebingungan.
Presiden Soekarno kemudian memanggil KH Abdul Wahab Hasbullah untuk mencari solusi dan ia kemudian mengusulkan agar para elit politik saling bertemu, duduk bersama dan saling memaafkan.