KH Abdul Wahab Hasbullah juga mengusulkan agar pertemuan itu tidak menggunakan istilah silaturrahmi karena dinilai terlalu agamis dan kurang keren.
Ia kemudian mengusulkan istilah halal bihalal yang kemudian menjadi terminologi nasional yang di dalamnya ada 2 semangat :
1. Semangat agama silaturahim
2. Semangat budaya, yang merupakan gabungan dari islam dan budaya nasional
Sebab itu, Halal bihalal bukan hanya sekadar tradisi bermaaf-maafan, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu upaya untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta mempererat tali persaudaraan.
Baca Juga: Hanya di Indonesia, Inilah 6 Tradisi Lebaran di Tanah Air Untuk Sambut Hari Kemenangan Idul Fitri
Halal bihalal juga bermakna sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah dan meluruskan hubungan yang kurang baik.
Istilah halal bihalal kemudian menjadi simbol islam Nusantara sebab budaya ini hanya ada di Nusantara yang terus berkembang dari zaman ke zaman.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Dulu Pernah Disinggahi Bung Karno! Nikmati Kesegaran dan Wisata Sejarah di Rembangan, Bakal Jadi Destinasi Lebaran yang Tak Terlupakan di Jember
Mengapa Lebaran Identik dengan Ketupat? Makanan Khas Hari Raya yang Dikenalkan Sunan Kalijaga Ini Ternyata Punya Filosofi dan Makna Mendalam
4 Fakta Unik Mudik Lebaran atau Pulang Kampung Saat Hari Raya Idul Fitri: Asal Kata hingga Bukan Terjadi di Indonesia Saja
Mengapa Lebaran Idul Fitri Identik dengan Ketupat? Ternyata Ada Filosofi Ini hingga Dikaitkan dengan Sunan Kalijaga
12 Menu Makanan Khas Lebaran Idul Fitri Paling Populer di Indonesia, Nomor 6 Proses Masak Sampai 5 Jam tapi Tahan Semingguan
Lebaran Usai! Mari Intip 5 Oleh-Oleh Khas Kabupaten Bondowoso Jawa Timur yang Cocok Diborong Pulang Pasca Liburan