Minggu, 19 Juli 2026

Halal Bihalal, Tradisi Nasional yang Lahir dari Situasi Politik yang Tak Sehat di Indonesia Era Soekarno

Photo Author
Endang Hartatik, Sketsa Nusantara
- Rabu, 2 April 2025 | 18:12 WIB
Soekarno pada halal bihalal THN 1948 untuk satukan elemen elit politik pasca kemerdekaan  (X @islamidotco)
Soekarno pada halal bihalal THN 1948 untuk satukan elemen elit politik pasca kemerdekaan (X @islamidotco)

KH Abdul Wahab Hasbullah juga mengusulkan agar pertemuan itu tidak menggunakan istilah silaturrahmi karena dinilai terlalu agamis dan kurang keren.

Baca Juga: Indahnya Kebersamaan, Intip 7 Tradisi Unik Hari Raya Idul Fitri di Kabupaten Jember, Ada Tompokan hingga Pawai Pegon Bikin Lebaran Makin Meriah!

Ia kemudian mengusulkan istilah halal bihalal yang kemudian menjadi terminologi nasional yang di dalamnya ada 2 semangat :

1. Semangat agama silaturahim 

2. Semangat budaya, yang merupakan gabungan dari islam dan budaya nasional 

Sebab itu, Halal bihalal bukan hanya sekadar tradisi bermaaf-maafan, tetapi juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu upaya untuk membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta mempererat tali persaudaraan.

Baca Juga: Hanya di Indonesia, Inilah 6 Tradisi Lebaran di Tanah Air Untuk Sambut Hari Kemenangan Idul Fitri

Halal bihalal juga bermakna sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah dan meluruskan hubungan yang kurang baik.

Istilah halal bihalal kemudian menjadi simbol islam Nusantara sebab budaya ini  hanya ada di Nusantara yang terus berkembang dari zaman ke zaman.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini! 

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: unpas.ac.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X