Faktanya, di awal 1950-an, kehidupan rakyat Indonesia jauh dari kata makmur.
Kemiskinan, kelaparan, dan ketidakstabilan politik masih menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat pasca-kemerdekaan.
Selain itu, dalam lagu ini juga menyebut tradisi bulan Syawal yang kerap menjadi momen orang tua menikahkan anak-anak mereka.
Hal ini mencerminkan kebiasaan sosial yang kuat di kalangan masyarakat saat itu, sekaligus menjadi pengingat bahwa di tengah kesulitan ekonomi, rakyat tetap berusaha menjaga tradisi dan kebersamaan.
Namun, kontras antara semaraknya Lebaran dan realitas pahit yang dialami rakyat semakin mempertegas sindiran Ismail Marzuki terhadap para penguasa yang gagal memenuhi janji kesejahteraan.
Melalui Hari Lebaran, Ismail Marzuki menunjukkan kepiawaiannya dalam mengemas kritik sosial dalam bentuk seni yang indah.
Berikut adalah lirik lengkap Lagu Hari Lebaran karya Ismail Marzuki:
Setelah berpuasa satu bulan lamanya. Berzakat fitrah menurut perintah agama. Kini kita beridulfitri berbahagia
Minal aidin walfaizin. Maafkan lahir dan batin. Selamat para pemimpin. Rakyatnya makmur terjamin.
Dari segala penjuru mengalir ke kota. Rakyat desa berpakaian baru serba indah
Setahun sekali naik trem listrik perey. Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore
Cara orang kota berlebaran lain lagi. Kesempatan ini dipakai buat berjudi.
Sehari semalam main ceki mabuk brendi. Pulang sempoyongan kalah main pukul istri