Minggu, 19 Juli 2026

Relate dengan Zaman Sekarang? Inilah Makna Lagu Hari Lebaran Karya Ismail Marzuki yang Berisi Sindiran kepada Para Penguasa Negeri

Photo Author
Mila Zhely Nurul Hidayah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 4 April 2025 | 10:00 WIB
Potret jemaah sholat ied di hari lebaran, momen sukacita di tengah lesunya kondisi ekonomi seperti yang diungkapkan dalam lagu Hari Lebaran karya Ismail Marzuki (Unsplash/Falaq Lazuardi)
Potret jemaah sholat ied di hari lebaran, momen sukacita di tengah lesunya kondisi ekonomi seperti yang diungkapkan dalam lagu Hari Lebaran karya Ismail Marzuki (Unsplash/Falaq Lazuardi)

SketsaNusantara.id - Suasana penuh sukacita menyambut Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, terasa di seluruh penjuru negeri.

Dalam perayaan hari kemenangan ini, selain gema takbir, lagu-lagu bertema hari raya juga ikut menggema di berbagai tempat, mulai dari media sosial, televisi, hingga radio.

Di antara sekian banyak lagu Lebaran, karya Ismail Marzuki yang berjudul "Hari Lebaran" menjadi salah satu yang paling ikonik dan tak lekang oleh waktu.

Baca Juga: Mudik Singkatan dari Apa? Mengenal Tradisi Pulang Kampung saat Lebaran yang Lahir pada Masa Orde Baru

Lagu karya Ismail Marzuki ini tidak hanya membawa nuansa kebahagiaan, tetapi juga menyimpan makna tersirat sebagai sindiran kepada para penguasa negeri.

Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @gnfi, lagu Hari Lebaran pertama kali dipopulerkan oleh grup 5 Seirama di Radio Republik Indonesia (RRI) pada tahun 1952.

Lagu ini menggambarkan suasana Lebaran pada awal tahun 1950-an, masa di mana Indonesia baru saja merdeka dan masih berjuang membangun stabilitas sosial-ekonomi.

Baca Juga: Lebaran 2025 di Yogyakarta? Ini 5 Tempat Wisata yang Harus Masuk dalam Daftar Destinasi

Lagu ini dibuat dengan dengan alunan nada yang menggambarkan kegembiraan masyarakat menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Di balik melodi yang ceria dann lirik yang sederhana, Ismail Marzuki menyisipkan pesan-pesan yang mencerminkan realitas masyarakat kala itu.

Pada awalnya, lagu ini memang menggambarkan sukacita masyarakat menyambut Hari Lebaran setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa.

Namun, jika diperhatikan lebih dalam, ada beberapa bagian lirik yang mengandung sindiran tajam.

Salah satunya adalah potongan lirik, "Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin."

Kalimat ini terdengar seperti ucapan selamat yang tulus, tetapi sebenarnya merupakan kritik pedas kepada pemerintah pada masa itu.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Instagram @gnfi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X