Di dalam jagung tersebut terdapat banyak nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh, seperti serat, protein, vitamin B, vitamin C, serta antioksidan.
Lalu, apa hubungannya dengan makanan ini sebagai pendamai antara kerajaan yang berkonflik?
Dimulai dari abad ke-15, waktu sering terjadi konflik antara Kerajaan Gorontalo dan Limboto.
Binte biluhuta dijadikan simbol persatuan dengan makna pipilan jagung yang terpisah lalu disatukan dalam kuah, melambangkan perdamaian.
Baca Juga: BRI Dukung Event Jelajah Kuliner Indonesia 2024 dengan Tema 'Menjelajahi Rasa, Merayakan Budaya'
Dari hidangan sederhana ini, muncul makna yang mendalam tentang kebersamaan yang mengikat satu sama lain.
Waktu pun terus berjalan tetapi makanan ini terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Puncaknya pada tahun 2016, ketika makanan ini resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh pemerintah.
Artinya, itu adalah sebentuk pengakuan bahwa binte biluhuta tak cuma eksis sebagai hidangan tradisional.
Sup jagung yang rasanya bak menggigit lidah ini membuktikan dalam sejarah sebagai simbol kebersamaan, keberagaman, dan perdamaian.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Rasanya Premium! Rekomendasi Kuliner Enak Khas Bangka Belitung! Dijamin Ketagihan Banget
2 Ide Bikin Kue Tradisional untuk Sambut Perayaan 17 Agustus 2024 Pasti Bikin Ketagihan, Kuliner Sederhana Rasa Luar Biasa
Tercantum di Serat Centhini, Ini Sejarah Serabi Solo, Kuliner Khas dengan Cita Rasa Gurih Manis
Yuk, Melipir ke Waroeng Pring Pethak di Malang! Nikmati Kuliner Khas Nusantara di Tengah Sawah Lokasinya…
Mengulik Kisah Intip Ketan, Makanan Jadul Kesukaan Sunan Kudus yang Kini Jadi Kuliner Khas Jawa Tengah, Hanya Ada di Waktu Khusus