Kesaksian ini menimbulkan pertanyaan besar tentang sikap Soeharto terhadap informasi yang diberikan Latief.
Meski diberi peringatan tentang kudeta yang akan terjadi, Soeharto tampaknya tidak bereaksi atau mengabaikan peringatan tersebut.
Setelah G30S, ketegangan semakin meningkat, dan PKI menjadi target utama.
Soekarno tidak banyak berbuat untuk menghentikan situasi, sedangkan masyarakat sipil, mahasiswa, dan tentara menggelar demonstrasi besar-besaran menuntut pembubaran PKI dan perbaikan ekonomi.
Puncaknya terjadi pada 11 Maret 1966, ketika Soeharto, sebagai Panglima Angkatan Darat, meminta Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Soekarno, yang memberinya kuasa ekstra untuk mengatasi keadaan.
Langkah ini membuka jalan bagi Soeharto untuk mengambil alih kekuasaan dari Soekarno.
Soeharto kemudian dinyatakan sebagai pahlawan yang berhasil menumpas PKI dan akhirnya menjadi presiden.
Namun, di bawah kepemimpinannya, lebih dari 500.000 orang yang diduga terlibat dengan PKI atau simpatisannya mengalami penahanan dan pembantaian di seluruh Indonesia.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!
Artikel Terkait
Daftar 8 Prestasi Jenderal Ahmad Yani, Pahlawan Revolusi 'Anak Emas' Soekarno yang Gugur saat G30S PKI
Profil Ahmad Yani, Jenderal Kesayangan Bung Karno yang Gugur dalam Peristiwa G30S PKI
Siapa yang Membunuh Jenderal Ahmad Yani? Inilah Sosok Serda Gijadi, Anggota Cakrabhirawa dalam Peristiwa G30S PKI
Rumah Jenderal Ahmad Yani, Jadi Museum Bersejarah Mengenang Peristiwa G30S PKI
Berapa Jumlah Anak Jenderal Ahmad Yani? Begini Nasib Putra-Putri dari Pahlawan Revolusi yang Dulu Jadi Saksi Mata Kebiadaban G30S PKI