Di daerah ini ada sekitar 13 gugus menhir lainnya yang telah didata dan dirawat.
Ini menjadikan Maek sebagai pusat tradisi megalitik di Sumatera Barat.
Menurut Guru Besar Arkeologi Universitas Andalas, Herwandi, banyaknya menhir di Maek mungkin terkait dengan lokasi pegunungan.
Tradisi megalitik ini juga ditemukan di daerah lain di Pulau Sumatera, seperti Nias di utara dan Sumatera Selatan di selatan.
Selama penggalian, ditemukan variasi dalam cara pemakaman, dengan mayat diletakkan di lubang penguburan dengan kedalaman antara 125 cm hingga 195 cm dari permukaan tanah.
Baca Juga: Contoh Susunan Upacara HUT Kemerdekaan ke-79 RI di RT, Ternyata Berbeda dengan Seremoni di Sekolah?
Posisinya ini jika perhatikan dengan saksama mengikuti arah barat laut-tenggara.
Menhir di Maek sering disebut "batu mejan," yang berarti batu nisan. Ini menunjukkan hubungan antara menhir dan budaya Minangkabau.
Beberapa menhir juga dihiasi dengan pola hias tradisional Minangkabau seperti kaluak paku, kacang balimbiang, dan saik galamai.
Situs Menhir Maek tetap menjadi tempat menarik bagi pelancong, pelajar, dan peneliti. Meskipun kunjungan menurun selama pandemi Covid-19, sebelumnya situs ini ramai dikunjungi setiap minggu.
Menhir Maek merupakan bagian penting dari warisan budaya megalitik dan sejarah Minangkabau.***
Artikel Terkait
Ngarai Sianok: Destinasi Wisata yang Tidak Boleh Dilewatkan dengan Keajaiban Alam Sumatera Barat yang Memukau
Dibuat Bekal Saat Perjalanan Lintas Negara? Sejarah Rendang, Kuliner Khas Sumatera Barat yang Sudah Go International
Tradisi Unik Suku Mentawai di Sumatera Barat, Gigi Runcing Sebagai Sebuah Simbol Kecantikan Wanita?
Jalan dengan 9 Belokan Jadi Akses dari Sumatera Barat ke Riau, Ada Sejak Hindia Belanda 1908-1814
Mengenal Saintific Crime Investigation dalam Kasus Pembunuhan Feni Ria Sumatera Barat, Bagaimana Dasar Hakim Membuat Keputusan?