Minggu, 19 Juli 2026

Inilah Sendang Tirto Waluyojati Sebagai Situs Religi Penganut Agama Katolik, Awal Penemuannya karena Ritual Doa Warga Setempat?

Photo Author
Sinta Dewi Utami, Sketsa Nusantara
- Rabu, 24 Juli 2024 | 06:26 WIB
Goa Maria di Sendang Tirto Waluyojati di Ponorogo. (disbudparpora.ponorogo.go.id.)
Goa Maria di Sendang Tirto Waluyojati di Ponorogo. (disbudparpora.ponorogo.go.id.)

SketsaNusantara.id - Sendang Tirto Waluyojati adalah tempat wisata religi bagi para peziarah yang menganut agama Katolik khususnya di Pulau Jawa dan sekitarnya.

Sendang Tirto Waluyojati ini berada di Desa Krepu, Kecamatan Sooko dengan jarak 30 km dari pusat Kota Ponorogo menuju ke arah tenggara.

Situs wisata ziarah Sendang Tirto Waluyojati sudah diresmikan oleh Mgr.A.J. Dibjakarjana pada 27 Mei tahun 1988 yang merupakan seorang Uskup di Surabaya.

Baca Juga: Sunan Bejagung Lor Vs Gajah Mada, Kisah Pertarungan Adu Ilmu di Watu Gajah Tuban, Siapa yang Menang?

Selain itu, perlu diketahui bahwa Sendang Tirto Waluyojati mempunyai nama sebutan lain yaitu Gua Maria Fatima Sendang Waluyo Jatingsih.

Penamaan Goa Maria tersebut, karena disitu ada sebuah gua kecil dan patung Maria yang ada di dalamnya.

Sebagai tempat ziarah, situs ini juga dilengkapi dengan lapangan untuk berdoa, jalan salib yang melingkari jalan menuju ke tempat ziarah, Gereja Stasi, Gereja Sakramen Mahakudus, serta Patung Bunda Maria dari Fatima.

Baca Juga: Supriyadi Meninggal, Menghilang atau Dihilangkan? Ini Dia Pengakuan Sang Adik tentang Keberadaannya yang Misterius

Dilansir SketsaNusantara.id dari website p2k.stekom.ac.id, menurut kisah yang beredar di masyarakat, Mata Air Sendang Waluyojati pada awalnya ditemukan oleh warga di sana.

Warga itu bertempat tinggal di lokasi yang berdekatan dengan sumber mata air sendang tersebut.

Pada waktu itu, mayoritas masyarakat Desaa Klepu menganut agama Katolik dan mempunyai kebiasaan berdoa bersama kepala desa setempat dengan cara berpindah-pindah dari rumah ke rumah.

Baca Juga: 3 Karomah Gus Miek, Ulama Rasa Wali yang Suka Dakwah di Diskotik, Bertemu Nabi Khidir Gara-Gara Ikan?

Ketika rombongan masyarakat sedang melewati dan melihat mata air itu, mereka kemudian menganggapnya sebagai sebuah tempat yang angker dan mistis.

Setelah itu, kebiasaan berdoa dari rumah ke rumah pun diganti menjadi tirakatan di setiap malam Jumat.

Halaman:

Editor: Wilda Wijayanti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X