SketsaNusantara.id - Nama lengkapnya adalah Sukarni Kartodiwirjo. Dalam buku-buku pelajaran sejarah di sekolah Indonesia, ia lebih dikenal sebagai Sukarni.
Ia juga sering disebut dalam sebuah peristiwa penculikan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok, yang mendesak Dwi-Tunggal itu untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Meskipun demikian, namanya timbul tenggelam dalam pusaran sejarah, dan lebih sering disebut pada cuplikan fragmen penculikan tersebut.
Padahal, bisa dibilang jika tidak ada Sukarni, Indonesia mungkin tidak akan memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.
Dilansir SketsaNusantara.id dari buku 100 Tokoh yang Mengubah Indonesia, terbitan Narasi tahun 2005, Sukarni mewakili generasi muda yang gerah dengan sikap Bung Karno dan Bung Hatto.
Pasalnya, kedua tokoh itu dinilai terlalu lamban dalam menyikapi menyerahnya Belanda kepada pihak Sekutu.
Bersama sekelompok anak muda, Sukarni lalu menculik Bung Karno dan Bung Hatta, membawa mereka berdua ke Rengasdengklok, Jawa Barat.
Mereka mendesak agar Indonesia segera melakukan Proklamasi Kemerdekaan dengan memanfaatkan vaccuum of power dan menyusun teks proklamasi.
Dikutip dari Kemdikbud.go.id, Sukarni dilahirkan di Garum, Blitar, Jawa Timur pada 14 Juli 1916. Ia adalah anak kelima dari pasangan Kartodiwirjo-Supiah.
Sukarni merupakan sosok militan yang anti kompromi. Bahkan, masa kecilnya diwarnai dengan perkelahian dengan anak-anak Belanda.
Perkelahian tersebut kerap dipicu oleh ketidaksukaannya pada para penjajah di bumi Indonesia.
Artikel Terkait
Hanya Menerima 10 Pembeli Saja, Restoran Unik di Yogyakarta Ini Sajikan Menu Khas Dari Resep Warisan Bung Karno
Penuh Perjuangan di Bulan Juni! Inilah 10 Twibbon Bulan Bung Karno, Cocok Dipasang di Medsos Sebagai Bentuk Khidmat Pada Sang Proklamator
Kisah Tongkat Komando Bung Karno, Terbuat dari Kayu Langka di Pegunungan Jawa Timur, Bisa Menangkal Tembakan Sniper?
Tak Dapat Pengawalan! Ini Alasan Presiden Soekarno Dikawal Yakuza saat Berkunjung ke Jepang
Jejak Kyai Zainul Arifin Pahlawan Nasional dari Barisan Hisbullah, Kisahnya Jadi Tameng Hidup Soekarno Legendaris Hingga Kini